MAKASSAR — Duka menyelimuti kediaman keluarga di Jalan Sultan Abdullah II, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin. Pihak keluarga memastikan Sitti Fatimah merupakan salah satu dari lima korban jiwa yang teridentifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur di Rumah Sakit Bhayangkara HS Samsoeri Mertojoso.
Kepastian itu diperoleh setelah tim DVI mencocokkan data post mortem korban pasca dievakuasi SAR Gabungan dari kapal yang terbakar pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Kesaksian pilu disampaikan Irwan, saudara korban. Ia menceritakan momen terakhir Sitti Fatimah di atas kapal yang sedang dilalap si jago merah. Sang ibu nekat tetap bertahan di kapal karena takut terhadap air laut.
"Keponakan juga sudah menelpon. Dia terpisah di kapal. Waktu kapal terbakar, dia (Izza) didorong ibunya turun ke laut. Dan ibunya masih di kapal, karena takut sama air. Jadi anaknya yang didorong," ucap adik keempat korban dari enam bersaudara ini.
Irwan mengaku yakin korban adalah Sitti Fatimah setelah melihat rekaman video yang beredar. "Saya yakin itu dia, waktu melihat video beredar di atas kapal (saat terbakar). Kami melihat persis ketika menoleh. Dia terlihat jelas dengan keponakan saya yang sama di kapal," katanya.
Rangkaian perjalanan nahas ini bermula saat Sitti Fatimah berangkat dari Makassar pada Senin, 27 Juli 2026 menuju Jakarta. Tujuannya menjemput Nurul Izza yang baru pulang dari program magang di Taiwan selama satu tahun.
Setelah bertemu di Jakarta, keduanya melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan naik KMP Mutiara Sentosa II dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Pelabuhan Makassar. "Dia berangkat ke Jakarta, jemput anaknya yang dari Taiwan, lalu ke Surabaya naik kapal. Anaknya itu kuliah dan ke Taiwan (kerja) magang," tutur Irwan.
Keputusan naik kapal laut diambil Sitti Fatimah secara mendadak. Sebelumnya, ia sempat berkomunikasi dengan keluarga dan mendapat kabar terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan puluhan rumah di dekat rumahnya di Makassar. Ia pun bergegas membeli tiket kapal untuk pulang.
"Waktu itu masih teleponan. Karena sebelumnya terjadi kebakaran (besar) di dekat rumah, jadi dia buru-buru mau pulang ke Makassar, sehingga pesan (tiket) kapal," ujarnya.
Saat ini pihak keluarga masih menunggu kepastian terkait kondisi Nurul Izza. Irwan menyebut belum ada informasi terbaru dari Basarnas mengenai status keponakannya tersebut.
Namun, pihak Rumah Sakit Bhayangkara setelah berkoordinasi dengan Rumah Sakit Umum Daerah di Surabaya meminta sidik jari untuk proses identifikasi lebih lanjut. "Sidik jari dibawa ke Surabaya. Dan yang diambil sidik jarinya itu anaknya. Anak Sitti Fatimah itu ada enam, pekerjaannya ibu rumah tangga," kata Irwan menambahkan.
Sebanyak 229 korban dari KMP Mutiara Sentosa II berhasil dievakuasi tim SAR Gabungan usai kapal naas itu terbakar di tengah laut. Proses identifikasi korban jiwa masih terus dilakukan oleh tim DVI Polda Jawa Timur.