LUWU — Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat kebersamaan justru diwujudkan lewat aksi nyata di lapangan. Fordes Matappa bersama pemerintah desa dan warga menggelar kerja bakti serentak yang menyasar 20 desa dan kelurahan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini bukan hanya soal membersihkan lingkungan atau fasilitas umum. Lebih dari itu, kerja bakti menjadi medium mempertemukan masyarakat, aparat desa, dan kelembagaan lokal dalam satu gerakan yang hasilnya bisa langsung dirasakan.
Ketua Fordes Matappa Desa To’baru, Sultan, menegaskan bahwa persoalan kebersihan tidak bisa serta-merta dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran kolektif warga untuk turun tangan menjadi kunci agar lingkungan tetap terjaga.
“Gotong royong ini bukan hanya tentang membersihkan lingkungan, tetapi juga bagaimana kita membangun kepedulian bersama. Ketika masyarakat bergerak bersama, pekerjaan menjadi lebih ringan dan rasa kebersamaan semakin kuat,” ujar Sultan, Jumat (7/8).
Menurutnya, aktivitas sederhana seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kepedulian sosial yang lebih luas. Jika warga terbiasa terlibat dalam urusan bersama, rasa memiliki terhadap desa pun ikut menguat.
Senada dengan Sultan, Ketua Fordes Matappa Desa Kadundung, Palimping, mengingatkan bahwa momentum kemerdekaan tidak boleh berhenti pada pemasangan atribut atau kegiatan seremonial belaka. Substansi peringatan harus diisi dengan tindakan yang berdampak langsung.
“Semangat kemerdekaan harus kita isi dengan kegiatan yang nyata dan bermanfaat. Menjaga kebersihan desa adalah tanggung jawab kita bersama. Dari kegiatan seperti ini, kita bisa memperkuat kebersamaan dan kepedulian antarwarga,” kata Palimping.
Bagi warga di wilayah lingkar tambang, kerja bakti serentak ini juga menjadi penanda pentingnya menjaga kohesi sosial. Ketika semua elemen desa berada dalam satu barisan untuk kepentingan bersama, perbedaan kepentingan dapat dikesampingkan demi tujuan yang lebih besar.
Ketua Fordes Matappa Desa Sampeang, Akmal, melihat gotong royong sebagai aset sosial yang krusial bagi desa, terutama untuk menghadapi tantangan ke depan. Masyarakat yang terbiasa bekerja sama akan memiliki komunikasi dan rasa saling percaya yang lebih kuat.
“Kerja bakti ini menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan saling percaya di tengah masyarakat. Kalau warga solid dan saling mendukung, desa akan lebih kuat menghadapi berbagai tantangan. Dari desa yang rukun dan kompak, pembangunan Kabupaten Luwu juga akan memiliki fondasi yang semakin kuat,” tutur Akmal.
Fordes Matappa berharap semangat ini tidak berhenti setelah perayaan kemerdekaan usai. Gotong royong diharapkan menjadi kebiasaan sosial yang terus hidup dan menjadi bagian dari upaya membangun desa secara berkelanjutan.
Sebab, pembangunan desa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya program. Ia juga membutuhkan masyarakat yang mau bergerak, saling percaya, dan merasa memiliki tempat yang mereka sebut sebagai desa. (*)