SULAWESI SELATAN — Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, bursa yang akan dibesut bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini tengah dalam tahap penyusunan mekanisme. Hingga kini, pemerintah belum memutuskan secara resmi komoditas apa saja yang akan diperdagangkan, namun prioritas diberikan pada produk-produk unggulan produksi dalam negeri.
"Belum, belum diputuskan. Yang pasti adalah komoditas-komoditas yang memang itu produksi kita yang paling utama. Misalnya CPO, nikel, batu bara," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).
Pembentukan Icomex merupakan langkah strategis untuk mencapai kedaulatan harga komoditas nasional. Selama ini, harga komoditas andalan Indonesia seperti minyak sawit mentah dan nikel lebih banyak ditentukan oleh bursa internasional, bukan oleh mekanisme pasar domestik.
"Makanya ini sedang proses untuk nanti diatur sedemikian rupa, intinya adalah bukan ada ini dan sebagainya, tidak. Tapi intinya adalah kedaulatan terhadap barang-barang yang kita miliki harus kita yang menentukan. Selama ini kan nggak," tegas Prasetyo.
Dengan adanya bursa sendiri, pemerintah berharap Indonesia dapat memiliki acuan harga (price discovery) yang lebih merepresentasikan kondisi fundamental pasokan dan permintaan domestik. Hal ini dinilai krusial mengingat Indonesia adalah produsen utama nikel dunia dan eksportir CPO terbesar.
Pertanyaan besar yang mengemuka di kalangan pelaku pasar adalah nasib Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX), bursa berjangka swasta yang telah beroperasi sejak 2009. Prasetyo belum memberikan jawaban pasti apakah ICDX akan diintegrasikan ke dalam Icomex atau tetap beroperasi secara paralel.
"Nanti kita lihat ininya, bisa jadi kan mungkin bisa gabung, mungkin bisa sendiri," kata Prasetyo ketika ditanya kemungkinan integrasi dengan ICDX.
Keputusan ini menjadi krusial bagi para pelaku industri dan trader komoditas. Integrasi dengan ICDX yang sudah memiliki infrastruktur dan likuiditas bisa mempercepat operasional Icomex. Sebaliknya, membangun bursa baru dari nol memberikan kontrol penuh kepada pemerintah dalam merancang aturan main, termasuk mekanisme penetapan harga dan biaya transaksi.
Pembentukan bursa ini berpotensi mengubah lanskap perdagangan komoditas nasional. Bagi perusahaan tambang dan perkebunan, keberadaan bursa domestik bisa menjadi alternatif hedging selain bursa internasional seperti Bursa Malaysia Derivatives untuk CPO atau London Metal Exchange untuk nikel.
Namun, pemerintah masih menggodok detail mekanisme, termasuk bagaimana formula harga dunia akan diselaraskan dengan harga domestik. "Nanti lah ada mekanismenya. Sama, ada cost-nya, ada ininya, harga dunianya bagaimana," sebut Prasetyo.
Bagi investor, kehadiran Icomex membuka peluang instrumen investasi baru di pasar komoditas. Meski demikian, skema pengawasan OJK dan likuiditas pasar menjadi faktor kunci yang akan menentukan kredibilitas bursa ini di mata pelaku pasar keuangan.
Investasi mengandung risiko.