Digitalisasi Manuskrip dan Cagar Budaya Didorong, Ini Dampaknya bagi Wisata Sejarah di Indonesia

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:44:32 WIB
Petugas memperlihatkan proses digitalisasi manuskrip kuno di Sulawesi Selatan.

SULAWESI SELATAN — Bayangkan sebuah kitab bersejarah berusia ratusan tahun rusak diterjang banjir. Jika isinya tidak pernah didokumentasikan, generasi mendatang kehilangan sumber pengetahuan yang tak ternilai dan sulit dipulihkan. Kekhawatiran inilah yang mendorong Komisi X DPR RI untuk menggencarkan upaya digitalisasi cagar budaya dan manuskrip kuno di Indonesia.

Agung Widyantoro menegaskan bahwa pelestarian fisik saja tidak cukup. Pengalaman kerusakan sejumlah situs akibat bencana harus menjadi momentum untuk mengubah pendekatan. “Kenapa tidak dari dulu terpikir untuk bagaimana menampilkan cerita-cerita sejarah, kebesaran-kebesaran para ulama pada saat itu berbasis digital. Sehingga sekarang ketika kena banjir, kita tidak kehilangan,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Panja Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Mengapa Digitalisasi Menjadi Kunci Pelestarian?

Politisi Fraksi Partai Golkar itu menjelaskan, banyak situs bersejarah di Indonesia tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga jejak tokoh, ulama, karya tulis, dan kearifan budaya. Apabila sebuah kitab rusak dan belum sempat dialihmediakan, sumber sejarah itu akan hilang selamanya.

“Kalau sekarang kena banjir, kita tidak kehilangan. Sekarang Bapak anggarkan ratusan miliar sekalian untuk kitab itu, apa yang bisa kita dapatkan? Bagaimana generasi kita bisa membaca kitab itu? Sudah rusak, kitab itu pun tidak bisa terbaca lagi,” tegasnya.

Menghidupkan Sejarah untuk Generasi Muda

Digitalisasi bukan sekadar arsip, melainkan juga strategi pemanfaatan cagar budaya. Dengan penyajian informasi sejarah yang menarik dan mudah diakses, situs-situs tersebut diharapkan tidak menjadi bangunan mati, melainkan ruang pembelajaran yang relevan bagi generasi muda.

“Kalau bangunan itu kita kembalikan seperti sebelumnya, pertanyaannya siapa yang mau datang ke situ? Bagaimana anak-anak kita ada ketertarikan ke sana?” kata Agung. Ia menilai pendekatan berbasis teknologi adalah cara yang lebih relevan untuk memperkenalkan sejarah di tengah perkembangan zaman.

Apa Artinya bagi Wisatawan?

Bagi traveler yang tertarik pada wisata sejarah dan religi, inisiatif ini membuka peluang baru. Nantinya, cerita di balik situs bersejarah, isi kitab kuno, dan peninggalan ulama dapat diakses secara daring. Ini memungkinkan riset sebelum berkunjung atau bahkan menjelajahi koleksi yang tidak dipamerkan secara fisik.

Komisi X DPR RI menegaskan dukungannya terhadap upaya penyelamatan situs bersejarah, khususnya yang terdampak bencana. Namun, pelestarian harus diarahkan untuk memastikan nilai sejarah tetap hidup. “Kalau ingin menyelamatkan situs sejarah benar-benar murni, spiritnya akan kita ambil untuk generasi berikutnya,” pungkas wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX itu.

Bagi Anda yang berencana mengunjungi situs cagar budaya, informasi terkini mengenai kondisi fisik dan akses digitalisasi dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata atau balai pelestarian kebudayaan setempat sebelum berangkat.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: suarapemerintah.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top