Petani Bulukumba Optimistis Tanam Padi Tiga Kali Setahun lewat Irigasi MYP Sulsel 2025-2027

Penulis: Hendra Setiawan  •  Rabu, 30 September 2026 | 08:39:31 WIB
Petani di Kabupaten Bulukumba optimistis frekuensi tanam padi meningkat dari dua menjadi tiga kali setahun melalui proyek irigasi MYP Sulsel 2025-2027.

Petani di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, optimistis frekuensi tanam padi bisa naik dari dua menjadi tiga kali setahun setelah rehabilitasi jaringan irigasi tahun jamak (multiyears project/MYP) Pemprov Sulsel rampung. Proyek senilai Rp780 miliar itu menyasar 54.000 hektare sawah di 16 kabupaten, dengan pengerjaan di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae baru mencapai 1,1 kilometer dari total 2,5 kilometer.

BULUKUMBA — Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Baso Mauragawali, menyebut jaringan irigasi yang dibangun Pemprov Sulsel tidak hanya mengairi lahan garapan yang sudah ada. Setelah rampung, saluran baru itu berpotensi membuka lahan persawahan baru di wilayahnya.

Dua desa tercatat menerima dampak langsung proyek ini, yakni Bontonyeleng dan Palang Barae. Keduanya berada di Kabupaten Bulukumba.

Dua Kali Jadi Tiga Kali Tanam

Petani Desa Bontonyeleng, Jamaluddin, mengaku kondisi petani sebelum ada irigasi cukup sulit. Jaringan lama tidak mampu menjangkau lahan di bagian hilir.

"Kondisi kami sebelum ada irigasi ini, keadaan petani memang sangat memprihatinkan karena akses irigasi tidak bisa sampai ke hilir," kata Jamaluddin.

Dengan pembangunan jaringan irigasi tersebut, ia berharap frekuensi tanam padi meningkat. Saat ini petani umumnya hanya bisa menggarap sawah dua kali dalam setahun.

"Dengan adanya irigasi ini, dari potensi garap sawah dua kali mudah-mudahan bisa sampai tiga kali nanti, khususnya tanam padi," ujarnya.

Peningkatan frekuensi tanam diyakini berdampak langsung pada pendapatan petani. Semakin sering panen, semakin besar peluang menambah penghasilan dari lahan yang sama.

Petani Muda Berharap Tak Perlu Merantau

Petani muda Desa Bontonyeleng, Madasari, menilai sektor pertanian di wilayahnya masih punya potensi besar untuk dikembangkan. Ketersediaan infrastruktur irigasi menjadi salah satu faktor pendukung.

"Kondisi pertanian di Bontonyeleng masih cukup memprihatinkan, tetapi dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi ini bisa menggerakkan petani muda agar tidak keluar dari desa dan bisa membangun potensi pertanian yang ada di desa," kata Madasari.

Menurut dia, irigasi yang memadai membuat pertanian terlihat sebagai sektor dengan prospek ekonomi. Itu penting agar generasi muda tidak meninggalkan kampung.

Progres Baru 1,1 Kilometer dari 2,5 Kilometer

Rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae menunjukkan progres signifikan. Pekerjaan saat ini mencapai sekitar 1,1 kilometer dari total panjang 2,5 kilometer.

Jaringan irigasi ini ditargetkan mengairi lahan persawahan seluas kurang lebih 1.200 hektare. Angka itu menjadi ukuran seberapa besar dampak yang bisa dirasakan petani setempat begitu proyek selesai.

Pemprov Sulsel mengalokasikan anggaran Rp780 miliar untuk merehabilitasi sejumlah jaringan irigasi. Daerah irigasi yang dilayani tersebar di Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Total luas sawah yang terlayani mencapai 54.000 hektare. Program tahun jamak ini berjalan pada 2025-2027.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: makassar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top