Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan provinsi itu mencapai 3,75 persen pada September 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,8. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,28 persen pada periode yang sama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,60 persen.
MAKASSAR — Kepala BPS Sulsel Aryanto menyampaikan bahwa inflasi tahunan dihitung dengan membandingkan harga September 2026 terhadap September tahun lalu. Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 5,16 persen dan memberikan andil 1,60 persen terhadap angka inflasi provinsi.
"Secara tahunan, pada September 2026, inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 3,75 persen. Kita bandingkan harga di September 2026 terhadap September tahun lalu," ujar Aryanto di Makassar, Jumat.
Komoditas emas perhiasan mencatat andil terbesar terhadap inflasi Sulsel dengan 0,56 persen. Disusul cabai rawit dengan andil 0,34 persen, daging ayam ras 0,18 persen, bensin 0,15 persen, dan minyak goreng dengan andil 0,12 persen.
Sejumlah komoditas lain justru menahan laju inflasi. Tomat memberikan andil deflasi 0,11 persen, diikuti bawang merah 0,4 persen, serta baju kaos tanpa kerah dan celana panjang yang masing-masing memberi andil deflasi 0,1 persen.
"Untuk penyeimbangnya itu, tomat memberikan andil deflasi 0,11 persen diikuti bawang merah 0,4 persen, baju kaos tanpa kerah dan celana panjang yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,1 persen," kata Aryanto.
Dari sisi regional, Kota Makassar mencatat inflasi tertinggi di Sulsel dengan 4,07 persen dan IHK 113,18. Sementara inflasi terendah terjadi di Kota Palopo sebesar 2,27 persen dengan IHK 110,98.
Pergerakan harga bulanan (month to month) pada September 2026 tercatat 0,70 persen. Adapun inflasi year to date (ytd) Sulawesi Selatan hingga September 2026 mencapai 3,22 persen, menggambarkan akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun.
Kenaikan harga emas perhiasan, cabai rawit, daging ayam, dan bensin berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga dan biaya operasional pelaku usaha kecil. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 5,16 persen menjadi kelompok paling menekan daya beli warga.
Angka inflasi Sulsel yang melampaui capaian nasional menempatkan provinsi ini pada posisi yang perlu perhatian dalam pengendalian harga pangan dan energi ke depan.