Pemerintah Kota Makassar bersama Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan menanam 285 bibit pohon di kawasan TPA Tamangapa, Antang. Penanaman ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan transformasi kawasan bekas tempat pembuangan akhir sampah itu menjadi ruang terbuka hijau dan hutan kota. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menargetkan wajah baru kawasan tersebut mulai terlihat dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
MAKASSAR — Sebanyak 285 bibit pohon ditanam di kawasan TPA Tamangapa, Antang, pada Senin. Bibit yang disiapkan terdiri dari 100 tabebuya, 50 salam, 25 sirsak, 25 jeruk nipis, 25 trembesi, 10 nangka, 10 rambutan, 10 mangga, 10 sukun, 10 sawo, dan 10 kelengkeng.
Kegiatan ini melibatkan Pemkot Makassar bersama Badan Karantina Indonesia Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan. Penanaman diarahkan untuk menyiapkan transformasi kawasan TPA menjadi ruang terbuka hijau sekaligus kawasan hutan kota.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyatakan penghijauan menjadi bagian penting dalam proses transformasi TPA Antang. Kawasan itu saat ini terus diarahkan meninggalkan sistem open dumping menuju pengelolaan yang lebih ramah lingkungan melalui sanitary landfill.
"Penanaman pohon di kawasan TPA sangat penting, ini menjadi area tamasya dan bukit hijau setelah timbunan sampahnya dipadatkan dan ditutup lapisan tanah untuk ditanami pohon," kata Munafri.
Kawasan TPA Tamangapa memiliki luas sekitar 21 hektare. Pemkot Makassar menargetkan kawasan tersebut dapat berkembang menjadi kawasan konservasi baru yang memberikan manfaat bagi lingkungan perkotaan, khususnya wilayah Antang dan sekitarnya.
Munafri menegaskan kawasan TPA tidak semestinya hanya menjadi tempat akhir pembuangan sampah. Kawasan itu dapat ditata menjadi kawasan hijau yang memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat.
"TPA ini sekarang dalam masa transformasi yang besar-besaran. Bagaimana proses peralihan dari TPA open dumping menuju controlled landfill atau sanitary landfill," ujarnya.
Proses peralihan sistem pengelolaan sampah itu berjalan beriringan dengan penataan ruang hijau di atas timbunan yang sudah dipadatkan dan ditutup lapisan tanah.
Munafri menyebut hasil penghijauan tidak dapat terlihat secara instan. Dalam tiga hingga empat tahun ke depan, pertumbuhan pohon diharapkan mulai membentuk wajah baru kawasan TPA.
"Hasil penghijauan memang tidak dapat terlihat secara instan, tetapi dalam tiga hingga empat tahun ke depan, pertumbuhan pohon diharapkan mulai membentuk wajah baru kawasan TPA. Kita maksimalkan, tiga sampai empat tahun sudah akan mulai kelihatan hasilnya," kata dia.
Munafri meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mencari dan mengembangkan sejumlah tanaman endemik yang mulai jarang ditemui untuk ditanam di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya pohon endemik seperti copeng, sattulu, bu'ne, hingga kersen.
Selain pohon buah, ia juga menginginkan penanaman pohon pelindung yang dapat memperkuat fungsi ekologis kawasan.
"Jadi, bukan hanya pohon buah, tetapi juga beberapa pohon pelindung. Kita berharap TPA ini bukan hanya menjadi TPA secara hamparan, tetapi juga bisa menjadi hutan kota di kemudian hari," katanya.
Munafri berharap kegiatan penanaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Penanaman ini diharapkan menjadi awal dari penataan kawasan TPA Antang secara bertahap.
"Kami ingin menghadirkan wajah TPA yang semakin hijau bagi kawasan ini. Ini penting karena kita merencanakan bagaimana TPA ini bisa menjadi media untuk menanam berbagai macam pohon," ujarnya.