SULAWESI SELATAN — Rumor kebangkitan nama Ranchero untuk truk listrik terjangkau Ford akhirnya terbantahkan. Pabrikan asal Dearborn, Michigan, Amerika Serikat, justru memilih nama Fathom untuk model terbarunya. Nama ini merujuk pada satuan ukur kedalaman laut yang dipakai pelaut zaman dulu, lalu bermakna "memahami sesuatu secara utuh".
Keputusan ini mengejutkan. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, Ford gencar memakai ulang nama-nama lawas. Mustang Mach-E, misalnya, adalah crossover listrik yang meminjam nama legenda pony car. Maverick yang dulu sedan kompak, kini menjadi pikap kecil berbanderol murah.
Alasan Ford Menolak Pakai Nama Ranchero
Juru bicara Ford membeberkan alasan di balik pemilihan nama Fathom. Dalam keterangan resmi yang diterima, Fathom dikembangkan dari nol di atas platform Universal Electric Vehicle Platform yang baru. Proses produksinya juga memakai metode perakitan anyar bernama assembly tree—terobosan yang belum pernah dipakai Ford sebelumnya.
"Fathom adalah kendaraan yang sepenuhnya baru, dikembangkan dari dasar menggunakan platform Universal Electric Vehicle Platform, dengan proses manufaktur baru dan menghadirkan teknologi baru bagi Ford dan industri. Semua inovasi ini menuntut nama yang baru dan berani—untuk memberi kepribadian, jiwa, dan menjadikannya karakter dalam kehidupan pelanggan kami. Ini adalah masa depan Ford modern," demikian pernyataan resmi pabrikan.
Artinya, Ford tidak sedang menyasar nostalgia generasi tua lewat model ini. Mereka justru ingin Fathom berdiri sebagai identitasnya sendiri, bukan sekadar tiruan masa lalu.
Fathom Bukan Penerus Ranchero
Sebenarnya, ada momen tertentu di mana menghidupkan nama lama itu tepat. Bronco adalah contoh paling sukses—SUV tersebut dianggap sebagai penerus sah dari jip legendaris era 1960-an. Namun kasus Fathom berbeda. Satu-satunya kesamaan antara Fathom dan Ranchero, yang selama ini dikenal sebagai rival Ford El Camino, hanyalah konstruksi bodi monokok.
Selain itu, hampir tidak ada lagi yang mirip. Fathom diklaim akan menjadi pionir teknik produksi yang nantinya dipakai untuk banyak model Ford di masa depan. Fokusnya adalah kecepatan perakitan yang menghasilkan produk lebih murah, baik bagi konsumen maupun perusahaan. Pergeseran paradigma seperti ini, menurut Ford, pantas mendapat nama yang sepenuhnya baru.
Sayangnya, hingga artikel ini ditulis, Ford belum memperlihatkan wujud asli Fathom tanpa kamuflase tebal. Publik hanya bisa melihat ilustrasi yang dibuat dari aset desain pabrikan. Yang jelas, truk listrik murah ini akan menjadi ujian besar bagi strategi Ford dalam bersaing di segmen kendaraan listrik terjangkau, terutama melawan pikap listrik murah dari pemain lain seperti Tesla Cybertruck yang jauh lebih mahal.