Pencarian

Pengamat: Koperasi Desa Merah Putih Butuh Aktivitas Ekonomi, Modal Besar Saja Tidak Cukup

Selasa, 18 Agustus 2026 • 09:35:01 WIB
Pengamat: Koperasi Desa Merah Putih Butuh Aktivitas Ekonomi, Modal Besar Saja Tidak Cukup
Suasana kegiatan ekonomi di koperasi desa yang melibatkan anggota sebagai produsen dan konsumen.

SULAWESI SELATAN — Nandan menekankan bahwa koperasi Merah Putih harus mampu membangun perputaran aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. "Koperasi Merah Putih jangan hanya menjadi koperasi yang didirikan di desa. Koperasi Merah Putih harus menjadi ekonomi desa yang hidup," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (15/8/2026).

Anggota Berperan Tiga Sekaligus: Produsen, Konsumen, dan Promotor

Untuk menciptakan ekosistem tersebut, Nandan menawarkan konsep Snowball Business Model. Model ini menempatkan anggota sebagai produsen, konsumen, sekaligus promotor dalam satu rantai ekonomi yang saling terhubung.

Dalam skema ini, petani, peternak, nelayan, perajin, dan pelaku UMKM berperan sebagai produsen yang memasok produk ke koperasi. Koperasi kemudian bertindak sebagai off-taker dan agregator untuk menghimpun hasil produksi serta memasarkannya dalam skala ekonomi yang lebih besar.

Peran ganda ini diharapkan mampu memberikan kepastian pasar bagi produsen sekaligus meningkatkan posisi tawar mereka. Di sisi lain, anggota didorong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sarana produksi, hingga layanan ekonomi lainnya melalui koperasi agar uang terus berputar di dalam desa.

Komitmen dan Kepercayaan Jadi Fondasi Utama

Nandan menyebut dua fondasi utama model ini adalah komitmen dan kepercayaan. Koperasi membutuhkan partisipasi aktif anggota serta tata kelola yang profesional, transparan, dan adil agar model bisnis ini berjalan.

Ia mengingatkan agar keberhasilan KDKMP tidak hanya diukur dari jumlah koperasi yang terbentuk atau besarnya modal yang disalurkan pemerintah. Indikator yang lebih relevan adalah jumlah anggota aktif, penyerapan produk anggota, volume transaksi, omzet, perputaran modal, hingga peningkatan pendapatan anggota.

Modal Tetap Penting, tapi Perlu Model Bisnis dan Pasar

Kendati dukungan modal pemerintah tetap penting, Nandan menilai koperasi juga membutuhkan model bisnis, akses pasar, sumber daya manusia, dan tata kelola yang kuat. Tanpa itu, suntikan modal berisiko menjadi aset yang tidak produktif.

Ia mengusulkan agar SBM diuji melalui proyek percontohan di sejumlah KDKMP dengan karakteristik wilayah berbeda selama enam hingga 12 bulan. Hasilnya bisa dibandingkan dengan koperasi berpola konvensional berdasarkan pertumbuhan anggota aktif, volume transaksi, dan tingkat kepercayaan anggota.

"Saya percaya bahwa gagasan ekonomi kerakyatan harus dibuktikan di lapangan, bukan berhenti sebagai konsep," tegas Nandan.

KDKMP merupakan salah satu agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dengan menjadikan koperasi sebagai penggerak kegiatan ekonomi di tingkat desa dan kelurahan.

Follow sulseldaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pantau.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks