Pencarian

Drama Kehamilan Remaja '17' Menang Aktris Terbaik di Sarajevo, Tayang Perdana di Berlinale

Minggu, 30 Agustus 2026 • 17:22:01 WIB
Drama Kehamilan Remaja '17' Menang Aktris Terbaik di Sarajevo, Tayang Perdana di Berlinale
Aktris Eva Kosti? menerima penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film Sarajevo untuk perannya dalam film "17".

SULAWESI SELATAN — Kosara Miti?, sutradara perempuan asal Makedonia, menghadirkan debut yang menusuk lewat film "17". Berlatar belakang perjalanan kelas siswa sekolah menengah ke Yunani, film ini mengikuti Sara (Eva Kosti?) yang menyembunyikan kehamilannya setelah menjadi korban kekerasan seksual oleh dua teman sekelasnya.

Sinopsis: Dua Hari Perjalanan yang Penuh Tekanan

Cerita dimulai dari momen traumatis ketika Sara yang masih berusia 17 tahun mengalami kekerasan saat bertemu dua anak laki-laki. Beberapa bulan kemudian, Sara harus mengikuti kelas wisata ke Yunani. Di sinilah ia kembali bertemu dengan Filip (Dame Joveski), salah satu pelaku yang kini menjadi kekasih mantan sahabatnya, Nina (Eva Stojcevska).

Sepanjang dua hari pertama perjalanan, penonton dibawa menyaksikan pergulatan batin Sara. Ia harus berbagi kamar dengan Lina (Martina Danilovska), teman yang lugu, dan Nina yang menyalahkan sikap Sara sebagai bentuk kecemburuan. Padahal, perut Sara yang mulai membesar disembunyikan dengan sabuk ketat.

Naskah yang ditulis Miti? bersama Ognjen Svili?i? ini mengupas budaya diam dan keistimewaan maskulinitas di lingkungan remaja. Para siswi didorong untuk menghibur dan menyerahkan tubuh mereka pada keinginan laki-laki, sementara korban justru menghadapi risiko bullying dan stigma jika berani bicara.

Penghargaan dan Pengakuan Internasional

Penampilan Eva Kosti? sebagai Sara menuai pujian kritikus. Ia dianugerahi penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film Sarajevo setelah filmnya tayang perdana di Berlinale. Kosti? berhasil menghadirkan lapisan emosi yang kompleks—dari kemarahan yang membara setiap kali bertemu Filip, hingga kerentanan yang bergetar saat menyadari kehamilannya semakin menekan tubuh dan jiwanya.

Sinematografer Naum Doksevski turut memperkuat atmosfer mencekam dengan pencahayaan kuning redup dan bayangan panjang di hotel tempat para siswa berhenti di Bitola. Gaya visual ini membuat film Prancis "La Gradiva" yang juga mengangkat kisah perjalanan kelas, terlihat cerah jika dibandingkan.

Solidaritas di Tengah Keputusasaan

Sara akhirnya membuka diri kepada Lina dan menemukan kemungkinan solidaritas. Ada pula momen kelembutan singkat bersama siswa lain yang dianggap kutu buku di kelasnya. Di tengah lautan keputusasaan, ikatan antarsesama perempuan menjadi secercah harapan yang menyelamatkan.

Klimaks film terjadi di pos pemeriksaan perbatasan, simbol persimpangan hidup Sara. Dalam adegan akhir yang menegangkan, penonton diajak menahan napas menyaksikan keputusan Sara: mengubur kebenarannya atau merangkulnya tanpa peduli pada hujatan orang lain.

Film yang Tidak Nyaman untuk Ditonton

"17" bukan tontonan yang nyaman. Beberapa adegan, termasuk kekerasan yang disaksikan langsung oleh pengunjung pesta di hotel, terasa sadis dan menekan batas kewajaran. Namun komentar salah satu guru—yang mengingatkan siswa agar berperilaku baik di Yunani karena negara itu beradab dan punya aturan—menunjukkan bahwa Miti? sengaja bermain dengan metafora.

Bagi penonton Indonesia, film ini menawarkan perspektif langka tentang remaja dan kekerasan seksual dari kawasan Balkan. "17" menjadi pengingat bahwa isu ini universal, melintasi batas geografi dan budaya.

Follow sulseldaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: variety.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks