PINRANG — Desa tidak lagi sekadar pemasok bahan baku mentah. Gagasan itu coba ditanamkan ITB Nobel Indonesia kepada masyarakat Desa Sempang, Pinrang, lewat seminar bertema "Menumbuhkan Entrepreneur Desa Melalui Inovasi, Digitalisasi dan Pemanfaatan Potensi Lokal".
Kaprodi Pascasarjana Magister Manajemen dan Kewirausahaan ITB Nobel Indonesia, Dr. Fitriany, SE., M.M., CPCSME, hadir sebagai pemateri. Ia menekankan pentingnya membangun kewirausahaan desa di tengah derasnya arus ekonomi digital. Desa dinilai menyimpan potensi ekonomi besar yang belum tergarap optimal, dan inovasi menjadi kunci transformasinya.
Mengubah Potensi Lokal agar Naik Kelas dan Tembus Pasar Nasional
Seminar ini tidak berhenti pada pemberian materi. Peserta diajak memetakan kekayaan sumber daya Desa Sempang, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan khas daerah. Selanjutnya, komoditas tersebut diolah agar memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar yang lebih luas.
Ada tiga pilar utama yang menjadi fondasi wirausaha desa maju: inovasi produk, digitalisasi usaha, dan kolaborasi ekosistem.
Inovasi mencakup diversifikasi pangan, peningkatan standar mutu, perbaikan kemasan, hingga upaya memperpanjang masa simpan. Digitalisasi membuka akses pemasaran melalui media sosial, platform e-commerce, dan pembayaran nontunai seperti QRIS.
Strategi Jitu: dari WhatsApp Bisnis hingga TikTok Shop
Perubahan pola usaha menjadi sorotan utama. Pelaku usaha tidak lagi cukup menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Mereka harus berani mengolah, mengemas, memberi merek, dan memasarkan secara digital—baik melalui WhatsApp Bisnis, TikTok Shop, maupun marketplace.
Teknologi memberi ruang bagi produk khas Desa Sempang untuk menjangkau pasar regional hingga nasional tanpa terlalu bergantung pada tengkulak. Cukup bermodal gawai pintar, pelaku usaha bisa mengelola katalog produk, menerima pesanan, dan memantau arus kas secara transparan.
Praktik pencatatan keuangan juga disorot. Dana usaha disarankan dipisahkan dari keuangan rumah tangga agar pengelolaan lebih tertib dan terukur.
Empat Langkah Memulai Usaha ala ITB Nobel Indonesia
Bagi warga yang ingin merintis usaha, materi seminar menawarkan empat langkah konkret. Pertama, memvalidasi kebutuhan pasar. Kedua, menguji produk dan kemasan.
Ketiga, melengkapi legalitas dasar seperti izin P-IRT dan sertifikat halal. Terakhir, membangun cerita produk melalui konten digital yang menarik.
Peran kelompok masyarakat juga dinilai krusial. Generasi muda dan kelompok wanita tani (KWT) disebut bisa menjadi motor produksi dan pengembangan usaha. Kearifan lokal tetap dipertahankan agar produk memiliki identitas yang tidak dimiliki daerah lain.
Kolaborasi Kampus dan Desa: MoU Ditandatangani
Sinergi ini tidak berhenti pada seminar. ITB Nobel Indonesia dan Pemerintah Desa Sempang menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan kewirausahaan desa.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ekosistem usaha di tingkat desa. Terlebih, jika potensi lokal dikelola dengan baik, desa mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menekan arus urbanisasi ke kota.