MAKASSAR — Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Noviana menyampaikan peringatan itu di Makassar, Senin. Ia menyebut musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, namun faktor lokal tetap dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara mendadak.
Selain hujan dan angin kencang, BMKG meminta masyarakat mengantisipasi cuaca panas dan udara yang lebih kering. Kondisi ini meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Wilayah Perairan yang Berpotensi Gelombang Tinggi
BMKG mengeluarkan peringatan gelombang tinggi sedang dengan ketinggian 1,25-2,5 meter untuk periode 14-17 September 2026. Tiga wilayah perairan yang terdampak adalah Perairan Pangkep, Perairan Makassar, dan Perairan Jeneponto.
Kecepatan angin di sekitar perairan Sulawesi Selatan diperkirakan berkisar 8-30 knot. Nelayan dan pengguna transportasi laut diminta memperhatikan kondisi ini sebelum melaut.
Dampak yang Perlu Diantisipasi Saat Cuaca Buruk
Hujan dan angin kencang lokal berpotensi menimbulkan pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, hingga sambaran petir. BMKG menyarankan warga menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan yang tidak kokoh saat cuaca buruk terjadi.
Untuk mengantisipasi cuaca panas, masyarakat diminta mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari. Penghematan air juga perlu dilakukan karena kondisi kering masih berpotensi berlangsung.
Waspadai Kebakaran Lahan di Musim Kering
Kondisi cuaca kering meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
BMKG mengajak masyarakat terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, termasuk laman BMKG dan aplikasi InfoBMKG. Dengan begitu, warga dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal terhadap perubahan cuaca maupun potensi bencana hidrometeorologi.