SULAWESI SELATAN — Wisata berbasis olahraga atau sports tourism dinilai menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru sektor pariwisata Indonesia. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut survei Ekspedia menunjukkan 44 persen responden bersedia bepergian ke luar negeri demi menghadiri event olahraga, dengan pengeluaran rata-rata USD1.500 per perjalanan. Potensi ini dibahas dalam peluncuran buku Dampak MotoGP Mandalika 2025 di Jakarta.
Kementerian Pariwisata melihat pergeseran perilaku wisatawan global yang kini menjadikan event olahraga sebagai alasan utama bepergian. Olahraga tidak lagi sekadar aktivitas kompetisi, melainkan sudah berkembang menjadi daya tarik destinasi tersendiri.
Data UN Tourism yang dikutip Widiyanti memperkuat arah kebijakan tersebut. Lembaga itu mengestimasikan sports tourism menyumbang 10 persen dari total belanja wisata global, dengan proyeksi pertumbuhan 17,5 persen per tahun hingga 2030.
Gaya Hidup Aktif Dorong Minat Wisata Olahraga
Perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia turut membuka ruang bagi pengembangan sektor ini. Widiyanti menyoroti meningkatnya aktivitas di kawasan Car Free Day, pertumbuhan studio kebugaran, komunitas lari, hingga beragam jenis olahraga baru yang digemari.
Minat yang tumbuh itu berjalan seiring bertambahnya event olahraga berstandar internasional di Indonesia. MotoGP Mandalika menjadi salah satu contoh utama yang rutin menyedot perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
HYROX Jakarta mencatat debut dengan peserta terbesar di Asia Pasifik, yakni 11.500 orang, dan sekitar 35 persen di antaranya datang dari luar negeri. Jakarta International Marathon 2026 juga diikuti 45.500 pelari, termasuk 1.012 pelari internasional dari 55 negara.
Produk Wisata di Luar Event Jadi Kunci
Pengembangan sports tourism dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penyelenggaraan kompetisi. Pemerintah perlu membangun produk wisata yang memberi pengalaman bagi pengunjung sebelum dan sesudah event berlangsung.
Di kawasan Sirkuit Mandalika, berbagai aktivitas wisata dapat dikembangkan sebagai atraksi tambahan bagi wisatawan yang datang ke Lombok. Konsep serupa diterapkan lewat stadium tour di Jakarta International Stadium, yang menawarkan pengalaman wisata di dalam stadion dan menarik komunitas pendukung klub sepak bola.
Widiyanti juga mencontohkan Tour de Singkarak yang pernah menjadi sarana memperkenalkan Sumatra Barat sebagai destinasi wisata. Meski kini vakum, pengalaman penyelenggaraannya menunjukkan bagaimana olahraga dapat membangun citra daerah.
Rangkaian Geopark Run yang melewati kawasan Ijen, Mencakup, Ciletuh, dan Belitung menjadi contoh lain. Perpaduan olahraga dan destinasi alam itu dinilai dapat menjadi pintu masuk memperkenalkan potensi adventure tourism Indonesia.
"Event-event ini menjadi pengungkit nama destinasi para wisata Indonesia," kata Widiyanti.
Tantangan: Sebaran Event dan Daya Dukung Destinasi
Di balik peluang besar itu, pengembangan sports tourism masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya distribusi event yang belum merata karena sebagian besar kegiatan masih terkonsentrasi di destinasi tertentu.
Widiyanti mendorong setiap daerah menciptakan event yang mengangkat karakter, budaya, dan keunggulan lokal masing-masing. Kementerian Pariwisata terus membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, sektor swasta, dan pemangku kepentingan pariwisata.
Persoalan lain berkaitan dengan daya dukung destinasi. Lonjakan wisatawan pada periode event berskala besar dapat meningkatkan tekanan terhadap kapasitas akomodasi dan infrastruktur.
Setiap penyelenggaraan event internasional perlu dibarengi koordinasi antara Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, dan industri pariwisata. Tujuannya memastikan kesiapan destinasi menerima wisatawan.
Menjaga Daya Tarik Sepanjang Tahun
Keberhasilan sports tourism juga harus diukur dari kemampuannya menciptakan kunjungan berkelanjutan. Destinasi tidak seharusnya hanya ramai saat event utama berlangsung, tetapi tetap memiliki daya tarik di periode lain.
"Inilah mengapa kita terus mengembangkan produk wisata berbasis sports tourism tadi sebagai daya tarik sepanjang tahun," ujar Widiyanti.
Bagi traveler yang ingin merencanakan perjalanan berbasis event olahraga, kalender event nasional dan internasional di Indonesia bisa menjadi acuan awal. Pastikan memesan akomodasi jauh hari, terutama untuk ajang besar seperti MotoGP Mandalika yang biasanya menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah signifikan.