SULAWESI SELATAN — Fenomena menahan smartphone lebih lama bukan sekadar kebiasaan pelit, melainkan keputusan rasional. Seorang pengguna iPhone 13 yang membeli perangkatnya pada 2022 mengaku belum berniat menggantinya hingga 2026, meski baterai sudah turun ke 80 persen. "Saya tidak sendirian," tulisnya dalam sebuah artikel yang dikutip tim redaksi.
Harga ponsel flagship terus menanjak. iPhone 17 dan Google Pixel 10 dibanderol mulai 799 dolar AS (sekitar Rp 13,2 juta), sementara Samsung Galaxy S26 berada di angka 899,99 dolar AS (sekitar Rp 14,8 juta). Di tengah tekanan ekonomi global, mengeluarkan belasan juta rupiah setiap tahun terasa semakin tidak masuk akal.
Di sisi lain, inovasi dari tahun ke tahun dinilai makin datar. Loncatan besar seperti kehadiran kamera depan di iPhone 4, asisten virtual Siri di iPhone 4S, atau desain revolusioner iPhone X sudah jarang terulang. Kini, peningkatan hanya terjadi pada chip dan kamera yang lebih baik — sesuatu yang tidak lagi cukup menggoda untuk merogoh kocek dalam-dalam.
Produsen seperti Apple, Samsung, dan Google gencar mempromosikan fitur kecerdasan buatan (AI) sebagai alasan utama untuk upgrade. Namun, data membantah strategi ini. Survei CNET 2025 menemukan hanya 11 persen pengguna di AS yang mengganti ponsel demi fitur AI — turun drastis dari 18 persen tahun sebelumnya. Lebih dari seperempat responden (29 persen) bahkan mengaku tidak tertarik atau tidak melihat manfaat dari AI di ponsel mereka.
Kekhawatiran akan privasi, dampak lingkungan, dan efek sosial dari AI justru lebih dominan di benak konsumen. "Saya lebih memilih menunggu hingga hiruk-pikuk AI mereda," tulis pengguna yang sama, seraya menambahkan bahwa produsen harus sadar mayoritas pengguna tidak mau membayar mahal untuk fitur yang belum terbukti esensial.
Salah satu alasan kuat menahan ponsel lebih lama adalah jaminan pembaruan sistem operasi. Apple, misalnya, mendukung model iPhone hingga sekitar tujuh tahun. Artinya, iPhone 13 yang dirilis 2021 masih akan mendapat update hingga 2028. Hal serupa mulai diikuti oleh Samsung dan Google yang kini menjanjikan pembaruan keamanan hingga tujuh tahun untuk model flagship terbaru.
Dengan dukungan software yang panjang, pengguna tidak perlu khawatir perangkatnya ketinggalan fitur keamanan atau kompatibilitas aplikasi. Keputusan untuk mengganti ponsel pun bisa ditunda hingga perangkat benar-benar menunjukkan tanda-tanda aus, seperti baterai yang tidak mampu bertahan sehari atau performa yang mulai tersendat.
Tren ini relevan bagi pasar Indonesia, di mana harga ponsel flagship kerap melampaui Rp 15 juta. Alih-alih tergoda jargon AI atau layar lipat yang masih mahal, konsumen disarankan mempertimbangkan daya tahan baterai, jaminan update software, dan kebutuhan nyata sehari-hari. Jika ponsel lama masih berfungsi lancar, menunda upgrade satu atau dua tahun lagi bukanlah keputusan yang salah.
Pada akhirnya, smartphone yang baik bukanlah yang terbaru, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan dompet penggunanya. Selama perangkat masih bisa diajak kerja sama, tidak ada alasan kuat untuk buru-buru menggantinya.