MAKASSAR — Peringatan keras disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam penguatan tes kemampuan akademik kepada 16.199 fasilitator Pembelajaran Mendalam (PM) secara virtual pada 6 Mei 2026. Ia menyebut generasi alfa dan sebagian generasi Z sebagai "generasi cemas" yang rentan secara mental.
Pernyataan ini merujuk pada pemikiran Jonathan Haidt tentang transisi masa kecil berbasis permainan nyata menuju kehidupan yang terkurung dalam layar gawai. Data di Amerika Serikat menunjukkan lonjakan eksponensial gangguan kecemasan dan depresi remaja sejak dekade 2010-an saat ponsel pintar dan media sosial mendominasi.
Menteri mengutip pengamat Renald Kasali yang menyebut generasi saat ini sebagai "generasi strawberry" — sehat secara fisik tetapi rapuh secara mental dan lemah secara intelektual. Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. bahkan menyebutnya sebagai "Fragile Generation" dalam diskusi daring yang dapat disaksikan di kanal YouTube resmi.
Ketergantungan pada teknologi menciptakan ekosistem digital yang tidak pernah tidur. Media sosial telah menggantikan peran lapangan bermain dengan ruang pamer berisi kurasi kehidupan yang tidak realistis. Akibatnya, remaja kehilangan kemampuan menghadapi kebosanan dan kesulitan kecil di dunia nyata.
Indonesia termasuk negara dengan durasi penggunaan internet harian tertinggi di dunia. Kondisi ini membawa tantangan serius di ruang kelas. Siswa kini lebih sering berinteraksi dengan layar daripada berdiskusi secara mendalam dengan rekan sebaya, yang mengikis kemampuan empati dan komunikasi interpersonal.
Proses belajar yang dulunya melibatkan perjuangan mencari referensi di perpustakaan kini berubah total. Segala informasi tersedia instan melalui mesin pencari. Kemudahan ini justru melahirkan kerapuhan mental karena siswa tidak terlatih menghadapi frustrasi saat menemukan hambatan intelektual.
Media sosial menciptakan standar kesuksesan yang bertabrakan dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Di satu sisi kurikulum menanamkan kerendahan hati dan integritas, namun algoritma media sosial memuja pamer kekayaan dan popularitas instan. Perpecahan identitas ini membuat siswa merasa cemas karena dunia nyata sekolah terasa membosankan dibandingkan dunia digital yang serba cepat.
Abdul Zahir, dosen Universitas Cokroaminoto Palopo yang turut menjadi peserta kegiatan, menuliskan respons terhadap pernyataan menteri tersebut. Ia menekankan bahwa fenomena "generasi cemas" berakar pada transformasi sosiologis yang fundamental dan membutuhkan pendekatan pembelajaran yang mampu membangun ketahanan mental peserta didik.
Kegiatan penguatan pembelajaran mendalam ini merupakan bagian dari upaya Kemdikdasmen untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Para fasilitator PM yang telah dilatih pada 2025 diharapkan mampu menerapkan metode pembelajaran yang tidak hanya mengejar capaian akademik tetapi juga membangun karakter tangguh pada generasi muda.