SULAWESI SELATAN — Data penjualan yang dirilis Gaikindo untuk periode Mei 2026 menunjukkan performa BYD yang kontras dengan pencapaian April lalu. Secara wholesales, distribusi BYD ke dealer merosot hingga 80,6 persen, hanya menyisakan 895 unit. Sementara itu, penjualan retail ke konsumen juga ikut turun dari 6.274 unit di April menjadi 2.892 unit di Mei.
Meski secara retail BYD masih bertahan di posisi 10 merek terlaris, kondisi ini berbeda dengan daftar 20 mobil terlaris. Tidak ada satu pun model BYD yang masuk dalam jajaran tersebut. Pada April lalu, dua model BYD—M6 dan Sealion 7—masih tercatat sebagai model terlaris di Indonesia.
Penyebab utama penurunan penjualan ini diduga kuat karena BYD menghentikan sementara kegiatan impor. Berdasarkan catatan Gaikindo, saat ini hanya ada tiga model yang didatangkan secara utuh (CBU) dari China: Seal Dynamic, Atto 3 Advanced Standard Range, dan Atto 3 Superior Extended Range. Namun, selama Mei 2026, tidak ada satu pun unit dari ketiga model tersebut yang tercatat masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, pabrik BYD yang tengah dibangun di Subang, Jawa Barat, belum sepenuhnya rampung. Data produksi Gaikindo menunjukkan belum ada aktivitas perakitan atau produksi mobil BYD di dalam negeri. Artinya, pasokan mobil BYD saat ini sepenuhnya bergantung pada impor yang justru dihentikan sementara.
Head of Marketing PR and Government Relations BYD Indonesia, Luther Panjaitan, mengakui proses pembangunan pabrik masih menyelesaikan sejumlah tahapan penting. "Secara spesifik saya nggak bisa sampaikan kapan bulannya, namun memang ini udah tahap terakhir. Yang ini penting, ini menyangkut compliance kita terhadap aturan yang telah berlaku," ujarnya.
Luther menjelaskan saat ini pihaknya tengah memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan standar kualitas produksi global BYD. Proses finalisasi ini menjadi krusial sebelum pabrik dapat beroperasi penuh dan mulai merakit mobil secara lokal. Hingga kini, belum ada kepastian kapan pabrik Subang akan memulai produksi komersial.
Kondisi ini membuat BYD berada dalam posisi jeda pasokan. Dengan impor yang dihentikan dan pabrik lokal yang belum siap, penjualan BYD dalam waktu dekat sangat bergantung pada ketersediaan stok yang sudah ada di dealer.