Praktik perbaikan perangkat elektronik yang selama ini identik dengan ponsel dan laptop mulai merambah ke kategori wearable. Google, melalui generasi terbaru jam tangan pintarnya, Pixel Watch 4, mengambil langkah yang berbeda dari kebanyakan kompetitor. Alih-alih mendesain perangkat yang tertutup rapat dan sulit dibongkar, perusahaan justru merancang arsitektur internal yang lebih ramah terhadap teknisi dan bahkan pengguna rumahan.
Salah satu poin utama yang membuat Pixel Watch 4 menonjol adalah kemudahan akses ke komponen vital. Baterai yang biasanya direkatkan dengan lem super kuat dan sulit dicongkel, kini dapat dilepas dengan alat standar yang tersedia di pasaran. Hal serupa berlaku untuk layar dan tombol fisik, yang bisa diganti tanpa perlu alat pemanas khusus atau risiko merusak casing.
Pendekatan ini kontras dengan strategi banyak merek wearable lain yang kerap menjadikan perangkat sebagai produk sekali pakai. Begitu baterai aus atau layar retak, satu-satunya opsi yang tersedia bagi konsumen adalah membeli unit baru karena biaya servis tidak sebanding dengan harga perangkat.
Dari sisi ekonomi, kemampuan memperbaiki sendiri secara langsung menekan biaya kepemilikan jangka panjang. Pengguna tidak perlu merogoh kocek lebih dari Rp 6 juta untuk unit baru hanya karena baterai sudah tidak tahan seharian. Cukup dengan biaya komponen yang jauh lebih murah, perangkat bisa kembali berfungsi optimal.
Dampak lingkungan juga signifikan. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa sampah elektronik global mencapai 62 juta ton pada 2022, dan angka ini terus bertambah setiap tahun. Jam tangan pintar, dengan siklus hidup yang pendek dan desain yang sulit diperbaiki, menjadi salah satu kontributor masalah ini. Google, dengan Pixel Watch 4, memberikan sinyal bahwa industri bisa berubah.
Meski langkah Google patut diapresiasi, realitasnya sebagian besar wearable di pasaran masih dirancang untuk dibuang, bukan diperbaiki. Produsen besar seperti Apple dan Samsung masih mempertahankan desain tertutup pada lini jam tangan pintar mereka. Perbaikan resmi hanya bisa dilakukan di pusat layanan resmi dengan biaya yang seringkali tidak masuk akal.
Gerakan right to repair yang digaungkan di berbagai negara mulai menekan perusahaan untuk mengubah pendekatan ini. Pixel Watch 4 bisa menjadi preseden bahwa desain repairable tidak mengorbankan estetika atau ketahanan air. Jika konsumen mulai memilih produk yang lebih mudah diperbaiki, tekanan pasar akan memaksa pemain lain untuk mengikuti jejak Google.
Bagi pengguna di Indonesia, di mana layanan resmi seringkali terbatas di kota-kota besar, kehadiran wearable yang bisa diperbaiki sendiri menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan. Keputusan membeli jam tangan pintar ke depan tidak lagi hanya soal fitur kesehatan atau desain, tetapi juga seberapa lama perangkat itu bisa bertahan sebelum akhirnya menjadi sampah.