SULAWESI SELATAN — Program bertajuk HK Water, Sanitation and Hygiene Infrastructure (WASH INFRA) ini menggabungkan instalasi Gama Rain Filter buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan teknologi Reverse Osmosis (RO). Air hujan yang ditampung dan mata air dari Kali Code melewati dua tahap penyaringan sebelum dialirkan ke rumah warga melalui jaringan pipa.
"Kami mengintegrasikan potensi alam seperti air hujan dan mata air alami dengan teknologi modern. Tujuannya agar masyarakat mendapatkan akses air siap minum yang higienis, merata, dan lebih ekonomis," ujar Plt. EVP Sekretaris Hutama Karya, Hamdani, dalam keterangan resmi, Senin (22/6).
Fasilitas ini juga dilengkapi menara air (water tower) dan filter penjernih khusus untuk menyaring bakteri berbahaya seperti escherichia coli. Risiko penyakit akibat kontaminasi bakteri di kawasan padat penduduk pun bisa ditekan.
Pemilihan Padukuhan Gemawang bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut berada di sekitar proyek pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr. Sardjito yang tengah dikerjakan Hutama Karya. Lewat kolaborasi dengan Yayasan Kinarya Anak Bangsa dan UGM, perusahaan ingin memperkuat hubungan dengan warga di area operasionalnya.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi program ini. Ia mengingatkan warga untuk merawat infrastruktur tersebut agar manfaatnya bisa bertahan lama. "Ini solusi jangka panjang dan berkelanjutan untuk mewujudkan desa mandiri air," imbuh Hamdani.
Hutama Karya tak berhenti di Sleman. Perusahaan berencana mereplikasi program serupa di sekitar proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Lokasi berikutnya adalah kawasan dekat pembangunan ruas Tol Palembang–Betung.
"Kondisi keterbatasan sumber air dan air baku yang tidak layak menjadi tantangan tersendiri di sana," kata Hamdani. Inisiatif ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 6 tentang air bersih dan sanitasi layak serta tujuan nomor 3 mengenai kehidupan sehat.