SIDRAP — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, menekankan percepatan penyelesaian proyek rehabilitasi Irigasi Ruang Amparita-Wettee. Infrastruktur ini ditargetkan mampu melayani kebutuhan air untuk lahan pertanian seluas 890 hektare di dua kecamatan.
Pesan itu disampaikan Syaharuddin saat menerima audiensi jajaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang di Rumah Jabatan Bupati, Rabu (24/6/2026). Ia mengingatkan agar kerja sama tim diperkuat dan kendala di lapangan segera dilaporkan untuk dicarikan solusi.
“Irigasi Amparita-Wettee ini vital untuk petani Sidrap. Kerja sama tim harus diperkuat supaya pengerjaan tidak lambat. Kalau ada kendala di lapangan, langsung dilaporkan dan langsung diselesaikan di tempat. Jangan sampai pekerjaan mangkrak karena miskomunikasi,” tegas Syaharuddin dalam pernyataannya.
Bagi petani di dua kecamatan tersebut, irigasi bukan sekadar saluran air. Infrastruktur ini menentukan keberhasilan musim tanam, produktivitas lahan, hingga pendapatan keluarga. Jika pasokan air terganggu, risiko penurunan produksi hingga gagal panen meningkat drastis.
Karena itu, rehabilitasi jaringan irigasi Amparita-Wettee dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi IV BBWS Pompengan Jeneberang, Datu Karaeng Raja, menjelaskan bahwa rehabilitasi ini dirancang khusus untuk meningkatkan layanan pengairan. Menurutnya, dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sidrap sangat penting agar seluruh tahapan pekerjaan berjalan lancar.
“Dukungan Pemerintah Kabupaten Sidrap sangat penting agar seluruh tahapan pekerjaan berjalan lancar dan manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” ujar Datu Karaeng Raja.
Jika selesai sesuai target, proyek ini diyakini akan memberi dampak luas. Tidak hanya memastikan ketersediaan air bagi sawah petani, tetapi juga mendorong peningkatan produksi pertanian, menggerakkan ekonomi desa, serta memperkuat posisi Sidrap sebagai lumbung pangan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan, Syaharuddin menegaskan setiap hambatan yang muncul harus segera dituntaskan. “Semakin cepat proyek selesai, semakin cepat pula manfaatnya mengalir ke sawah-sawah petani di Tellu Limpoe dan Panca Lautang,” pungkasnya.