ENREKANG — Suara anak-anak memenuhi ruang kegiatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang, Senin hingga Selasa (22-23/6/2026). Bukan sekadar membaca teks, mereka datang membawa cerita rakyat, cerita daerah, dan kisah inspiratif bernilai pendidikan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang Andi Ridwan, SE., M.AP mengatakan kegiatan ini bagian dari pengembangan budaya literasi di kalangan pelajar. “Melalui pengenalan cerita rakyat, cerita daerah dan cerita inspiratif yang mengandung nilai pendidikan, moral serta karakter bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan bertutur menjadi bekal penting karena tidak hanya berkaitan dengan membaca, tetapi juga cara menyampaikan ide dan pesan secara baik.
Bunda Literasi Kabupaten Enrekang Hj. Ratnawati Yusuf Ritangnga memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan lomba ini bukan sekadar ajang mencari juara.
“Lomba bertutur ini bukan sekadar acara untuk mencari juara. Tetapi lebih dari itu, kegiatan ini merupakan sarana untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan melatih keberanian tampil di depan umum,” katanya.
Hj. Ratnawati mengaku bangga melihat keberanian para peserta. Menurutnya, berdiri di depan banyak orang sudah menjadi pencapaian tersendiri. “Kalian semua adalah anak-anak hebat yang telah menunjukkan keberanian untuk tampil dan berbagi cerita di hadapan banyak orang,” ujarnya memberi semangat.
Kepada para guru dan orang tua, Hj. Ratnawati menyampaikan penghargaan atas dukungan dan pendampingan. Sebab di balik anak yang berani tampil, ada proses panjang membaca, berlatih, dan mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.
Ia juga berpesan agar budaya membaca tidak berhenti pada kegiatan lomba. “Semoga kegiatan ini berkembang menjadi kebiasaan memahami, menghayati, dan menyampaikan informasi secara baik dan benar,” ungkapnya.
Di Enrekang, panggung lomba bertutur tahun ini menjadi ruang kecil untuk menjaga budaya besar: membaca, berpikir, dan mewariskan cerita kepada generasi berikutnya.