Brick, Gawai Sederhana Seharga Rp 944 Ribu yang Berhasil Memutus Kecanduan Layar Ponsel

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 21:49:01 WIB
Brick, perangkat sederhana seharga Rp 944 ribu bantu pengguna mengurangi kecanduan layar ponsel.

Setelah bertahun-tahun bergulat dengan kebiasaan buruk memegang ponsel berjam-jam, jurnalis TechCrunch mengaku malu karena solusi paling efektif justru datang dari benda paling sederhana. Brick — magnet kecil bertuliskan merek — bukan sekadar aplikasi yang bisa dengan mudah diabaikan. Ia adalah penghalang fisik yang hanya bisa ditembus dengan aksi nyata: menempelkan ponsel ke perangkat, persis seperti saat melakukan pembayaran nirsentuh.

Mengapa Aplikasi Gagal, Tapi Plastik Berhasil

Fitur Screen Time di iPhone atau Digital Wellbeing di Android sudah lama ada. Tapi siapa yang tidak pernah mengabaikan notifikasi batas waktu dan lanjut menonton Reels? Pendiri Brick, Zach Nasgowitz dan TJ Driver, menyadari kelemahan mendasar ini. “Solusi berbasis perangkat lunak terlalu mudah dilewati. Yang benar-benar bekerja adalah menambahkan friksi,” kata Driver kepada TechCrunch.

Friksi itulah yang menjadi senjata utama Brick. Dengan mewajibkan pengguna bangkit dari sofa atau tempat tidur untuk menempelkan ponsel ke perangkat, keputusan untuk membuka Instagram atau TikTok berubah dari refleks bawah sadar menjadi tindakan yang disengaja. “Saya tidak akan repot-repot bangun hanya untuk scrolling,” tulis jurnalis TechCrunch yang menguji perangkat tersebut.

Dari Insomnia Digital ke Tidur yang Lebih Baik

Salah satu uji paling berhasil adalah untuk kebersihan tidur. Jurnalis TechCrunch membuat mode “Sleep” di aplikasi Brick yang aktif setiap pukul 22.30. Mode ini memblokir semua aplikasi kecuali aplikasi pesan (untuk keadaan darurat) dan aplikasi audio (podcast atau audiobook).

Konsekuensinya brutal: jika terbangun di pagi hari dan ingin membuka ponsel, ia harus turun dari tempat tidur, berjalan ke lantai bawah, dan menempelkan ponsel ke Brick. “Tanpa Brick, terlalu mudah bagi saya untuk kembali ke kebiasaan lama,” akuinya. Perangkat ini bahkan disebut lebih efektif dari yang ia harapkan.

Bukan Hanya untuk Milenial: Solusi untuk Pengguna “Dumb Phone” Modern

Brick tidak dirancang untuk membuat ponsel menjadi tidak berguna. Pengguna tetap bisa mengakses aplikasi penting seperti Google Maps atau Uber dalam keadaan darurat melalui fitur “emergency unbricks” yang jumlahnya terbatas. Namun, pendekatan personalisasi inilah yang membuat produk ini laku di pasaran.

Salah satu pengguna, kata Nasgowitz, sudah lama ingin beralih ke ponsel dumb phone tetapi tidak bisa meninggalkan aplikasi KakaoTalk untuk berkomunikasi dengan istri dan teman-temannya di Korea. “Brick mengubah ponsel saya menjadi apa yang selalu saya inginkan — ponsel yang bisa SMS, telepon, memotret, dan memakai Kakao. Ini sempurna,” kata pengguna tersebut.

Fenomena ini relevan dengan tren global di mana pengguna mulai muak dengan dominasi Big Tech dan godaan layar tanpa henti. Namun, ponsel lipat ala tahun 2000-an tidak cocok untuk gaya hidup modern yang membutuhkan aplikasi autentikator dua faktor, tiket konser digital, atau pembayaran transportasi umum. Brick menawarkan jalan tengah: tetap memakai ponsel pintar, tapi dengan desain lingkungan yang membatasi godaan.

Harga dan Ketersediaan

Brick dijual seharga US$59 (sekitar Rp 944 ribu) dan dapat dipesan langsung melalui situs resmi brick.so. Perangkat ini kompatibel dengan iPhone dan ponsel Android yang memiliki fitur NFC. Bagi yang ingin berhemat, perusahaan mengakui bahwa pengguna teknis bisa membuat versi DIY menggunakan tag NFC dan Apple Shortcuts — tapi hasilnya mungkin tidak seenak versi resmi.

Jurnalis TechCrunch yang menguji perangkat ini mengaku akan membeli satu unit secara pribadi setelah masa review berakhir. “Saya malu mengakuinya, tapi saya butuh plastik seharga Rp 944 ribu untuk mengubah gaya hidup saya,” tulisnya.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top