SULAWESI SELATAN — Memilih ponsel pintar di segmen harga terjangkau memang selalu penuh kompromi. Strategi pemasaran produsen kerap membuat konsumen fokus pada satu angka besar—kapasitas RAM—sambil mengabaikan komponen yang sebenarnya lebih menentukan kecepatan perangkat dalam jangka panjang.
Berdasarkan analisis dari Android Authority yang dirangkum VIVA pada Senin, 29 Juni 2026, terdapat tiga kesalahan kritis yang terus berulang di kalangan pembeli. Alih-alih mengejar RAM 16 GB, pengguna disarankan untuk memprioritaskan prosesor, jenis penyimpanan internal, dan tidak mudah tergiur fitur RAM virtual.
Kesalahan pertama adalah menjadikan RAM sebagai patokan utama performa. Produsen kerap memasarkan ponsel murah dengan RAM 12 GB atau 16 GB untuk menarik perhatian, namun di sisi lain memasang prosesor kelas bawah. Akibatnya, ponsel tetap terasa lambat saat membuka aplikasi berat atau menjalankan game.
"RAM yang besar tidak akan mampu menutupi keterbatasan prosesor yang kurang bertenaga," tulis tim Android Authority dalam laporannya. Chipset menentukan seberapa cepat ponsel membuka aplikasi, menjalankan game, hingga memproses tugas sehari-hari. Pilih prosesor yang lebih baik meski harus mengorbankan sedikit kapasitas RAM.
Kesalahan kedua yang tak kalah fatal adalah mengabaikan jenis media penyimpanan. Banyak HP murah masih mengandalkan eMMC—teknologi penyimpanan lawas yang kecepatan baca-tulisnya jauh di bawah standar. Sementara itu, model yang sedikit lebih mahal sudah menggunakan UFS (Universal Flash Storage).
Perbedaan kecepatan ini berdampak langsung pada waktu booting, proses instalasi aplikasi, pembukaan game, hingga aktivitas menyalin file. Hasilnya, ponsel dengan RAM lebih kecil tetapi memakai UFS sering kali terasa lebih responsif dibanding perangkat dengan RAM besar namun masih menggunakan eMMC. Komunitas pengguna Android di berbagai forum diskusi juga kerap menyuarakan temuan serupa saat membandingkan performa ponsel kelas terjangkau.
Kesalahan ketiga adalah percaya pada fitur RAM Expansion atau Virtual RAM yang kini banyak ditawarkan produsen. Fitur ini diklaim mampu menambah kapasitas RAM hingga belasan gigabita, namun sejatinya hanya meminjam sebagian ruang penyimpanan internal sebagai memori tambahan.
Karena kecepatan penyimpanan internal jauh lebih lambat dibanding RAM fisik, peningkatan performa yang dihasilkan umumnya sangat terbatas dan tidak bisa menyamai RAM asli. Mengaktifkan fitur ini justru berpotensi mengurangi ruang penyimpanan yang tersedia untuk aplikasi dan data pengguna.
Kesimpulannya, saat membeli HP murah di 2026, utamakan chipset yang mumpuni dan pastikan penyimpanan internal menggunakan teknologi UFS. Angka RAM yang besar hanya akan sia-sia jika dua komponen pendukung utama lainnya tidak memadai. Abaikan pula janji RAM virtual yang lebih bersifat gimmick pemasaran ketimbang solusi performa nyata.