SULAWESI SELATAN — Proyek pengembangan energi di Tuban bukan sekadar proyek biasa. Bagi Pertamina, kawasan ini adalah pusat pertumbuhan baru yang akan mengolah minyak mentah dan gas bumi menjadi produk siap pakai. Kehadiran Iriawan di lapangan menegaskan bahwa manajemen puncak tidak mau ambil risiko terhadap keterlambatan proyek yang nilainya mencapai triliunan rupiah ini.
Dalam kunjungannya, Iriawan meninjau langsung area konstruksi dan berdiskusi dengan para kontraktor serta manajemen proyek. Ia ingin memastikan tidak ada hambatan teknis atau administratif yang menghalangi progres pembangunan. "Kami ingin semua berjalan on track. Ini proyek negara, tidak boleh ada kompromi soal waktu dan kualitas," ujarnya dalam keterangan resmi.
Jika proyek ini rampung, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Pertamina. Masyarakat sekitar Tuban akan mendapatkan efek berganda, mulai dari lapangan kerja baru hingga pertumbuhan ekonomi lokal. Di sisi lain, pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan petrokimia nasional bakal semakin kokoh, mengurangi ketergantungan pada impor.
Iriawan juga menyoroti pentingnya aspek keselamatan kerja di lokasi proyek. Ia meminta seluruh pihak untuk mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat. "Keselamatan adalah prioritas nomor satu. Tidak ada gunanya proyek cepat jika mengorbankan nyawa pekerja," tegasnya.
Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa Pertamina serius mengejar target swasembada energi. Proyek Tuban adalah bagian dari masterplan perusahaan untuk membangun kilang dan fasilitas petrokimia terintegrasi. Dengan pengawasan langsung dari jajaran komisaris, diharapkan eksekusi di lapangan bisa lebih cepat dan efisien.
Ke depan, Pertamina berencana merampungkan beberapa fase proyek secara bertahap. Manajemen optimistis, dengan dukungan penuh dari pemerintah dan komitmen seluruh pemangku kepentingan, target operasional bisa tercapai sesuai rencana awal. Ini menjadi kunci bagi Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada produk energi impor dalam jumlah besar.