SULAWESI SELATAN — Dokumen pendaftaran IPO (S-1) Jersey Mike's yang diajukan ke otoritas pasar modal AS menjadi contoh nyata bagaimana istilah AI kini menjadi "bumbu" wajib dalam presentasi bisnis. Dalam dokumen setebal ratusan halaman itu, kata "artificial intelligence" dan singkatan "AI" muncul sebanyak 22 kali. Padahal, seperti dikutip dari laporan media teknologi, perusahaan ini tidak menjual produk AI, melainkan submarine sandwich dan aneka makanan cepat saji.
Yang menarik, sebagian besar penyebutan AI di dokumen tersebut justru berada di bagian peringatan risiko bagi investor. Jersey Mike's mengakui bahwa mereka "mulai menggunakan teknologi AI dalam bisnis", namun tidak merinci secara spesifik apa yang dilakukan atau bagaimana teknologi itu bisa menimbulkan kerugian. Kalimatnya pun cenderung generik, mirip templat standar yang lazim ditemukan di dokumen IPO perusahaan lain.
Sebagai perusahaan waralaba yang mengelola ribuan gerai, Jersey Mike's memang bergantung pada perangkat lunak (disebut 52 kali) dan data (disebut 112 kali) untuk operasional sehari-hari. Penggunaan AI untuk manajemen inventaris, misalnya, adalah praktik yang lumrah di industri makanan cepat saji. Namun, menyebut risiko bencana AI di dokumen IPO terasa berlebihan mengingat bisnis inti mereka adalah membuat sandwich sungguhan, bukan "AI slop" atau konten buatan AI yang tidak berguna.
Contoh kegagalan AI di sektor makanan sebenarnya sudah ada. Starbucks, misalnya, sempat meluncurkan alat manajemen inventaris berbasis AI yang tidak akurat dalam menghitung stok dan akhirnya dihapus. Namun, risiko semacam itu untuk bisnis seperti Jersey Mike's dinilai sangat kecil. Seorang analis bahkan bercanda bahwa kemungkinan gerai sandwich kena sambaran petir (yang pernah terjadi di Texas pada 2021) sama besarnya dengan risiko bencana AI di perusahaan ini. Ironisnya, kata "petir" sama sekali tidak disebut dalam dokumen S-1, sementara cuaca hanya disebut lima kali.
Fenomena ini mencerminkan kondisi pasar modal yang "haus" akan segala hal berbau AI. Investor saat ini cenderung memberikan valuasi lebih tinggi pada perusahaan yang menyematkan label AI, meskipun penerapannya masih dangkal. Tekanan ini mendorong perusahaan non-teknologi, termasuk restoran, untuk "menaburkan debu AI" ke dalam narasi bisnis mereka agar terlihat modern dan prospektif.
Bagi konsumen Indonesia, kabar ini mungkin tidak berdampak langsung karena Jersey Mike's belum beroperasi di dalam negeri. Namun, tren serupa bisa terjadi di pasar lokal. Perusahaan rintisan atau bahkan merek makanan lokal yang akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mungkin akan mengikuti pola yang sama: menyebut AI berkali-kali dalam prospektus mereka, meskipun implementasinya masih minim.
Sebagai konsumen dan investor, penting untuk tidak langsung terpukau oleh kata "AI" dalam dokumen bisnis. Pertanyaan kritis yang perlu diajukan: apa sebenarnya yang dilakukan AI tersebut? Apakah ada data konkret yang menunjukkan efisiensi atau peningkatan pendapatan? Atau sekadar taktik pemasaran untuk menarik perhatian investor yang sedang demam AI?
IPO Jersey Mike's sendiri belum memiliki jadwal pasti. Namun, kasus ini menjadi pengingat bahwa hype teknologi bisa melampaui realitas bisnis. Sandwich tetaplah sandwich — sehebat apa pun AI yang digunakan untuk memasarkan atau mengelola stoknya, rasa dan kualitas tetap menjadi penentu utama kesuksesan.