SULAWESI SELATAN — Dominasi Tesla di pasar mobil penumpang impor Korea Selatan kian tak terbendung. Berdasarkan data Asosiasi Importir dan Distributor Mobil Korea (KAIDA) yang dirilis Jumat (3/7), total 184.032 mobil impor baru terdaftar selama Januari–Juni 2025. Angka ini naik 33,2 persen dari tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, Tesla mengantongi 56.139 unit. Pangsanya melonjak drastis dari 13,9 persen pada semester I-2024 menjadi 30,5 persen. Artinya, hampir satu dari tiga mobil impor yang laku di Korea Selatan adalah produk Elon Musk.
Kenaikan penjualan Tesla tidak lepas dari permintaan tinggi terhadap Model Y. Pada Juni 2025 saja, Model Y Long Range terjual 5.155 unit, menjadikannya model impor terlaris di Korea Selatan. Posisi kedua juga ditempati Tesla dengan Model Y Premium Long Range sebanyak 3.318 unit.
Di bawah Tesla, merek-merek Jerman mulai tergerus. BMW berada di posisi kedua dengan pangsa 21,3 persen, disusul Mercedes-Benz 16,2 persen. Keduanya kehilangan lebih dari lima poin persentase dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, BYD asal China menempati posisi keempat dengan pangsa 6,3 persen. Model BYD Dolphin tercatat laku 2.747 unit pada Juni.
Kinerja impor mobil Korea Selatan pada Juni 2025 mencatatkan 38.059 unit terdaftar, naik 27,5 persen year-on-year. KAIDA menyebut tingginya permintaan terhadap kendaraan listrik menjadi motor utama pertumbuhan ini.
Fenomena ini menarik karena terjadi di tengah perlambatan pasar EV global. Korea Selatan, yang merupakan basis Hyundai dan Kia, justru menunjukkan daya serap tinggi terhadap Tesla dan BYD. Hal ini menandakan preferensi konsumen Korea mulai bergeser dari sedan mewah Eropa ke SUV listrik.
Belum ada pernyataan resmi dari Tesla Korea terkait strategi yang mendorong lonjakan ini. Namun, penurunan harga dan insentif pemerintah untuk EV di Korea Selatan pada awal 2025 diduga menjadi katalis utama.