SULAWESI SELATAN — Fenomena harga mobil listrik baru lebih murah dari versi bekasnya kini nyata terjadi di Jepang, tepatnya di Tokyo. Nissan Sakura, mobil listrik ringkas yang banderol normalnya 2,44 juta yen (Rp 271,97 juta), bisa dibawa pulang dengan harga hanya 560.000 yen (Rp 62,42 juta) setelah dipotong subsidi dari pemerintah pusat dan Pemerintah Metropolitan Tokyo.
Menurut laporan Nikkei Asia, Selasa (7/7), Sakura berhak atas dua lapis insentif sekaligus. Pertama, subsidi nasional sebesar 580.000 yen (Rp 64,65 juta). Kedua, subsidi dari Pemerintah Metropolitan Tokyo yang mencapai 1,3 juta yen (Rp 144,9 juta). Total potongan yang didapat pembeli mencapai sekitar Rp 209,55 juta.
Subsidi Tokyo sendiri bersifat bertingkat. Tanpa syarat tambahan, pembeli Nissan, Honda, dan Toyota langsung mendapat potongan 900.000 yen (Rp 100,32 juta). Dengan potongan itu, harga Sakura sudah turun menjadi 960.000 yen (Rp 107 juta), lebih murah dari kebanyakan mobil kei car berbensin.
Tambahan 400.000 yen (Rp 44,59 juta) bisa didapat jika pembeli memenuhi syarat tertentu, seperti memasang alat pengisian daya dan panel surya di rumah. Jika semua terpenuhi, harga Sakura menyentuh titik terendah 560.000 yen. Beberapa distrik di Tokyo bahkan menawarkan subsidi tambahan sendiri.
Insentif ganda ini langsung mendongkrak pasar. Sepanjang kuartal April-Juni, penjualan mobil listrik penumpang di Jepang mencapai 32.378 unit — hampir tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu. Porsinya kini 3,4 persen dari total penjualan mobil baru, pertama kalinya menembus 3 persen dalam satu kuartal. Pada Juni saja, rasionya sudah di atas 4 persen.
Honda mencatat lonjakan paling dramatis. Pada kuartal kedua, Honda menjual 4.497 unit mobil listrik, dibanding hanya tiga unit pada periode sama tahun sebelumnya. Model Super-One yang meluncur Mei lalu menyumbang 60 persen dari volume itu. Super-One dijual ritel 3,39 juta yen (Rp 377,87 juta) dan turun menjadi 2,09 juta yen (Rp 232,96 juta) setelah subsidi. Permintaannya begitu tinggi hingga sejumlah diler sempat menyetop pemesanan model tertentu.
Penjualan Tesla juga naik hampir tiga kali lipat menjadi sekitar 7.000 unit pada kuartal kedua. Selain subsidi, Tesla menggratiskan penggunaan stasiun Supercharger selama tiga tahun. Sementara itu, Toyota bZ4X yang menjadi mobil listrik terlaris di Jepang — normalnya dijual 4,8 juta yen (Rp 535,03 juta) — di Tokyo bisa terpangkas lebih dari separuh menjadi 2,2 juta yen (Rp 245,22 juta).
Besaran subsidi daerah di luar Tokyo tidak seragam. Prefektur Gunma menawarkan hingga 500.000 yen (Rp 55,73 juta), sementara Fukui hanya 100.000 yen (Rp 11,15 juta). Artinya, anomali harga baru lebih murah dari bekas ini paling terasa di Tokyo dan beberapa daerah dengan insentif tinggi.
Dengan potongan sebesar itu, harga Nissan Sakura baru di Tokyo bahkan lebih murah dari harga rata-rata unit bekasnya yang mencapai 1,51 juta yen (Rp 168,31 juta). Situasi ini menjadi bukti bagaimana kebijakan subsidi ganda mampu mengubah peta harga mobil listrik secara drastis.