SULAWESI SELATAN — Latitude Energy membawa teknologi bernama Transport Integrated Gasification (TRIG) ke meja perundingan. TRIG disebut sebagai teknologi gasifikasi batu bara paling canggih saat ini, mampu menyulap batu bara berkalori rendah—yang selama ini kurang optimal dimanfaatkan—menjadi gas sintetis.
Gas sintetis ini nantinya bisa dipakai sebagai bahan baku industri atau bahan bakar pembangkit listrik. Dengan memproduksinya di dalam negeri, Indonesia punya peluang memangkas volume impor gas dan produk turunannya.
"Teknologi energi maju AS dapat mendukung ketahanan energi, pertumbuhan industri, serta kemakmuran ekonomi jangka panjang bagi kedua negara," ujar Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar AS di Jakarta, Joy M. Sakurai, dalam keterangan resmi.
Latitude Energy tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar pertama. Perusahaan AS itu menjadikan Tanah Air sebagai batu loncatan untuk ekspansi proyek gasifikasi batu bara di kawasan Asia Tenggara.
Jacob Thomas, President & Chief Executive Officer Latitude Energy Holdings Inc, menyebut kesepakatan ini sebagai tonggak penting. "Dengan menggabungkan sumber daya domestik Indonesia yang melimpah dengan teknologi TRIG milik Latitude, kami berkomitmen menghadirkan teknologi unggulan Amerika Serikat ke Indonesia, mengembangkan kapasitas lokal, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi industri hilir Indonesia," kata Jacob.
PT Danantara Development Management Fund, bagian dari Danantara Indonesia, akan mendapat dukungan penuh dari Latitude Energy dalam bentuk manajemen, keahlian teknis, dan fokus investasi. Tujuannya membangun platform gasifikasi yang bisa dikembangkan dalam skala lebih besar.
CEO PT Danantara Development Management Fund Sigit P Santosa menegaskan, kemitraan ini sejalan dengan strategi pemerintah mewujudkan kemandirian energi. Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar dunia, memiliki cadangan batu bara kalori rendah yang melimpah.
"Selama ini batu bara kalori rendah kurang termanfaatkan secara optimal. Teknologi konversi canggih seperti TRIG bisa mengubahnya menjadi sumber energi bernilai tinggi untuk kebutuhan dalam negeri," ujar Sigit.
Kerja sama ini sekaligus mempertegas eratnya hubungan investasi antara AS dan Indonesia. Momentumnya juga dinilai tepat di tengah dorongan global untuk transisi energi yang tetap mengakomodasi sumber daya lokal.