SULAWESI SELATAN — Shin Tae-yong tidak membuang waktu. Dalam latihan perdananya menukangi Persija Jakarta, pelatih berusia 54 tahun itu langsung menerapkan standar ketat yang menjadi ciri khasnya. Bukan sekadar fisik, ia menekankan penguasaan sistem permainan modern yang mengedepankan tekanan konstan ke lawan.
Bagi Shin, intensitas tinggi bukan berarti pemain harus berlari tanpa arah. Konsep yang ia tanamkan sejak awal adalah disiplin posisional dan pengambilan keputusan cepat saat kehilangan bola. Sistem ini pernah ia terapkan di Timnas Indonesia dan Korea Selatan.
“Saya ingin pemain memahami bahwa bermain dengan intensitas tinggi butuh konsentrasi penuh selama 90 menit. Itu dimulai dari latihan,” ujar Shin dalam sesi perkenalan resmi.
Sesi pertama lebih banyak diisi pengenalan formasi dasar dan transisi cepat dari bertahan ke menyerang. Shin terlihat aktif menghentikan latihan untuk mengoreksi pergerakan pemain, terutama dari lini tengah. Ia juga memberi perhatian khusus pada pemain muda Persija yang dinilai punya daya juang tinggi.
“Saya lihat beberapa pemain muda punya potensi. Tapi potensi saja tidak cukup. Mereka harus disiplin dan mau belajar sistem baru ini,” tambahnya.
Shin Tae-yong resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala Persija menggantikan Carlos Pena. Kontraknya berlaku mulai musim 2025/2026. Target yang diberikan manajemen bukan sekadar gelar, tapi konsistensi performa sepanjang musim.
Pendekatan disiplin Shin diyakini bisa mengubah budaya latihan di Persija. Beberapa pemain senior menyambut positif metode ini karena dinilai lebih terstruktur dibanding musim lalu.
Meski baru satu sesi, Shin Tae-yong sudah menunjukkan bahwa ia tidak main-main. Ia ingin Persija tidak hanya kuat secara individu, tapi solid sebagai tim dengan sistem yang jelas. Jika berhasil, gaya permainan intensitas tinggi bisa menjadi identitas baru Macan Kemayoran di Liga 1.