Mahasiswa KKN Unhas Bangun Insinerator di Barru, Target Sampah Berkurang 90 Persen

Penulis: Hendra Setiawan  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 22:29:31 WIB
Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin membangun insinerator di Desa Lompo Tengah, Barru, untuk mengurangi volume sampah hingga 90 persen.

BARRU — Gagasan pemanfaatan insinerator ini lahir setelah mahasiswa KKN Unhas melakukan observasi lapangan dan diskusi dengan Pemerintah Desa Lompo Tengah. Dalam proses identifikasi kebutuhan, persoalan sampah menjadi isu prioritas yang disampaikan pemerintah desa.

Koordinator Desa KKN Unhas Abid Muwaffaq Akhmad menjelaskan, timnya tidak ingin datang membawa program yang sudah disiapkan dari kampus. "Kami tidak ingin datang hanya membawa program yang sudah disiapkan. Melalui pembangunan insinerator, kami berharap dapat membantu mengurangi penumpukan sampah sekaligus menjadi langkah awal membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan," katanya di Makassar, Jumat.

Teknologi Pembakaran Terkendali

Insinerator dirancang khusus untuk memusnahkan sampah melalui pembakaran pada suhu sangat tinggi, berkisar antara 800 hingga 1.200 derajat Celsius. Proses ini disebut mampu mengurangi volume sampah secara drastis sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan karena pembakaran lebih terkontrol.

Abid menyebut, penerapan teknologi ini dapat mengubah sampah menjadi abu dan mengurangi volumenya hingga 90 persen. Langkah ini menjadi alternatif penanganan sampah di desa yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan yang memadai.

Apa Kata Kepala Desa?

Kepala Desa Lompo Tengah Arifudin Pabiseang mengapresiasi pendekatan mahasiswa yang mengawali penyusunan program dengan observasi dan diskusi bersama pemerintah desa. Ia menilai pendekatan tersebut menghasilkan program yang tepat sasaran.

"Kami mengapresiasi mahasiswa KKN Unhas yang tidak langsung datang membawa program, tetapi terlebih dahulu melakukan observasi dan berdiskusi dengan pemerintah desa. Pendekatan ini menghasilkan program yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan," ujar Arifudin.

Program Pendukung: dari Briket hingga Sejarah Desa

Selain insinerator sebagai program utama, mahasiswa KKN Unhas juga menghadirkan sejumlah program pendukung. Ini meliputi pengembangan kemasan produk kue khas desa untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal, penyusunan buku sejarah desa, serta pelatihan pembuatan kompos Takakura.

Mahasiswa juga menginisiasi pemanfaatan sekam padi menjadi briket, pembuatan fungisida alami yang lebih ramah lingkungan, dan edukasi Gemar Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemari) bagi siswa sekolah dasar. Program terakhir ini bertujuan menanamkan kesadaran gizi sejak dini pada anak-anak di Desa Lompo Tengah.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: makassar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top