Berpusat di Sengkang, Pesantren As’adiyah adalah salah satu institusi pendidikan Islam tertua dan terbesar di Sulsel. Didirikan oleh K.H. Muhammad As’ad, pesantren ini konsisten mempertahankan kurikulum salaf yang kuat, terutama dalam ilmu nahwu-sharaf, fikih, dan tafsir.
Lingkungan belajarnya yang berada di tepi Danau Tempe memberikan suasana kondusif. Banyak ulama dan politisi nasional lahir dari sini. Untuk pendaftaran, calon santri biasanya mengikuti tes seleksi setiap awal tahun ajaran.
Didirikan pada 1938 oleh K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle, DDI Mangkoso dikenal sebagai pusat pengembangan dakwah dan pendidikan Islam di pesisir barat Sulsel. Sistem pendidikannya memadukan kajian kitab kuning dengan keterampilan hidup.
Pesantren ini memiliki jaringan kampus dan sekolah di berbagai daerah. Keunggulannya ada pada pembinaan karakter disiplin dan hafalan Al-Qur’an yang terstruktur. Setiap tahun, DDI menerima santri dari luar provinsi.
Terletak di pusat Kota Makassar, Al-Markaz Al-Islami menawarkan pendekatan modern tanpa meninggalkan dasar-dasar keislaman. Pesantren ini terkenal dengan program tahfiz intensif dan penguasaan bahasa Arab-Inggris.
Fasilitasnya lengkap, termasuk asrama, laboratorium komputer, dan perpustakaan digital. Orang tua banyak memilih pesantren ini karena lokasinya yang strategis dan kurikulum yang terintegrasi dengan pendidikan formal.
Darul Istiqamah telah lama menjadi pilihan warga Makassar dan sekitarnya. Fokus utamanya adalah pembentukan akhlak dan kemandirian santri melalui kegiatan harian seperti shalat berjamaah, muhadharah, dan wirausaha kecil.
Pesantren ini juga aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Setiap semester ada program pesantren kilat yang terbuka untuk umum. Jadwal penerimaan santri baru biasanya diumumkan melalui website resmi yayasan.
Sebagai cabang dari jaringan Hidayatullah nasional, pesantren ini mengusung konsep “pesantren kader” dengan porsi besar pada pendidikan kepemimpinan dan dakwah. Santri dibiasakan hidup mandiri sejak awal.
Kegiatan ekstrakurikuler seperti pelatihan jurnalistik dan kewirausahaan menjadi nilai tambah. Banyak alumninya yang kini menjadi dai, pengusaha, dan aktivis sosial di Sulsel. Informasi biaya dan pendaftaran dapat ditanyakan langsung ke kantor pusat di Jalan Hidayatullah.
Apakah ada pesantren di Sulsel yang menerima santri dari luar pulau?
Ya. Hampir semua pesantren besar seperti As’adiyah dan DDI menerima santri dari berbagai provinsi, bahkan luar Sulawesi. Sebaiknya hubungi bagian penerimaan untuk syarat spesifik.
Berapa lama masa pendidikan di pesantren tradisional di Sulsel?
Rata-rata 6 tahun untuk tingkat tsanawiyah dan aliyah, ditambah program takhassus atau tahfiz. Beberapa pesantren juga menawarkan program akselerasi selama 4-5 tahun.
Bagaimana cara memilih pesantren yang cocok untuk anak?
Pertimbangkan tiga hal: kurikulum (salaf atau modern), jarak dari rumah, serta kegiatan ekstrakurikuler. Datang langsung ke lokasi dan bicara dengan pengurus akan memberi gambaran nyata.
Apakah pesantren di Sulsel menyediakan beasiswa?
Beberapa pesantren, seperti Al-Markaz Al-Islami dan Darul Istiqamah, memiliki program beasiswa bagi santri berprestasi atau kurang mampu. Pastikan menanyakan detailnya saat pendaftaran.
Apa keunggulan pesantren dibanding sekolah umum di Sulsel?
Pesantren memberikan porsi lebih besar pada pembinaan akhlak, hafalan Al-Qur’an, dan penguasaan kitab kuning. Selain itu, lingkungan tinggal bersama (asrama) membentuk kemandirian dan kedisiplinan yang lebih kuat.
Pendidikan agama di Sulawesi Selatan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter yang berakar pada tradisi lokal dan nilai keislaman. Kuncinya, pilih pesantren yang sesuai dengan visi keluarga dan kebutuhan anak – kunjungi langsung, tanyakan kurikulum, dan rasakan atmosfernya.