SULAWESI SELATAN — Video yang memperlihatkan tumpukan material gelap di tepian Danau Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perbincangan hangat di media sosial. Akun X @Updatesofwworld pada Minggu (17/8) menyebut fenomena lokal ini sebagai Ta'i Sano, yang muncul hanya dua hari setelah gempa bumi berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah tersebut.
Daryono, anggota IABI, meyakini fenomena ini bukan sekadar endapan biasa. Ia menghubungkan kemunculan material hitam tersebut dengan aktivitas seismik masif yang masih berlangsung di kawasan Flores.
Menurut Daryono, guncangan gempa kuat memicu proses likuifaksi di dasar danau, yaitu pembentukan gunungan lumpur atau pasir (sand/mud volcanoes). Sedimen anoksik yang kaya bahan organik terdekomposisi dan sebelumnya terperangkap di bawah dasar danau, terdorong naik melalui retakan hingga akhirnya terdampar di pantai.
"Dugaan saya, guncangan gempa kuat memicu proses likuifaksi atau pembentukan sand/mud volcanoes di dasar danau," ungkap Daryono dalam cuitannya di X pada Selasa (18/8).
Daryono menekankan bahwa Wai Sano merupakan sistem hidrotermal atau geotermal kaldera, bukan sedimentary mud volcano. Interaksi air danau dengan sistem geotermal di bawahnya dapat melepaskan uap gas CO2 dan H2S. Tekanan gas yang naik secara mendadak ini yang mengaduk endapan lumpur hitam dasar danau ke permukaan.
"Wai Sano adalah sistem Hydrothermal/Geotermal Kaldera, bukan sedimentary mud volcano. Namun, adukan lumpur panas (mud pool/salse) tetap bisa muncul," imbuh Daryono.
Material hitam yang muncul diduga mengandung sulfida besi, hasil reaksi gas vulkanik H2S dengan mineral batuan atau endapan lumpur yang teralterasi hidrotermal. Secara umum, lumpur dasar perairan semacam ini berwarna hitam pekat dan berbau menyengat.
Gempa M7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) pagi dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Flores. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan terjadi di wilayah Flores hingga Selasa pagi (18/8) sekitar pukul 05.00 WIB.
Pihak berwenang belum mengonfirmasi secara resmi apakah gempa bumi tersebut secara langsung menyebabkan munculnya bahan berwarna gelap tersebut. Namun, rentetan gempa susulan diperkirakan masih akan berlangsung selama 3 hingga 4 pekan ke depan, yang berpotensi memicu fenomena serupa di kawasan danau kaldera lainnya.