Joao Pedro Buka Musim dengan Gol 31 Detik, Kutukan Nomor 9 Chelsea Mulai Terkikis

Penulis: Fauzan Arifin  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:55:01 WIB
Joao Pedro mencetak gol pada detik ke-31 dalam laga pembuka musim melawan Fulham.

SULAWESI SELATAN — Gol cepat itu menjadi pernyataan tegas penyerang asal Brasil tersebut. Joao Pedro tidak hanya mencetak gol pembuka musim, tetapi juga menunjukkan bahwa beban sejarah nomor 9 di Stamford Bridge tidak mempan baginya. Kemenangan ini sekaligus menjadi modal berharga Chelsea di bawah arahan pelatih anyar mereka.

Sepekan terakhir memang menjadi periode manis bagi pemain berusia 24 tahun itu. Selain resmi mengenakan nomor keramat, ia juga menandatangani kontrak baru berdurasi panjang hingga 2034 dengan nilai finansial yang ditingkatkan. Kombinasi kepercayaan klub dan performa impresif di lapangan membuatnya tampil percaya diri.

Kutukan yang Membelenggu Sejak Era Hasselbaink

Kepercayaan terhadap kutukan nomor 9 memang bukan sekadar mitos belaka bagi sebagian suporter Chelsea. Sejak kepergian Jimmy Floyd Hasselbaink pada 2004, belum ada striker produktif yang mampu bersinar lama dengan nomor tersebut di punggung mereka.

Nama-nama besar seperti Romelu Lukaku, Alvaro Morata, Gonzalo Higuain, Radamel Falcao, hingga Pierre-Emerick Aubameyang semuanya gagal memenuhi ekspektasi saat memakai nomor 9. Bahkan Liam Delap, pendahulu Joao Pedro, hanya mampu mencetak satu gol Liga Inggris musim lalu dan kini tengah dalam pembicaraan transfer dengan Nottingham Forest.

Menariknya, Didier Drogba justru sukses besar dengan nomor 11, sementara Diego Costa perkasa dengan nomor 19. Namun Joao Pedro tidak ambil pusing dengan beban historis tersebut. "Saya tidak percaya itu. Saya pikir angka tidak bisa menentukan tekanan ini," ujarnya tegas kepada Mirror seusai laga kontra Fulham.

Perjalanan Panjang dari Ribierao Preto ke Panggung Premier League

Ketangguhan mental Joao Pedro sejatinya terbentuk jauh sebelum ia bersinar di Inggris. Masa kecilnya di Ribeirao Preto diwarnai perjuangan keras. Sang ayah, Jose Joao de Jesus, menghabiskan delapan tahun di penjara dan jarang hadir dalam hidupnya. Ibunya, Flavia Junqueira, menjadi tulang punggung utama yang rela meninggalkan pekerjaan demi mengantar anaknya meraih mimpi.

"Joao punya mimpi. Saya berbagi mimpi itu dengan anak saya. Mimpi itu tidak memiliki harga," kenang Junqueira. Perjuangan itu berlanjut saat Joao Pedro masuk akademi Fluminense. Ia sempat dianggap "tidak cukup kuat" oleh pelatihnya, sebuah vonis yang membuatnya menangis. Ibunya pun menyewa pelatih pribadi untuk membangun fisik sang anak.

Rodrigo Goncalves, pelatih pribadi yang mendampinginya sejak lama, menuturkan bahwa transformasi Joao Pedro terjadi seiring waktu. "Dia sangat kurus dan ada perbedaan fisik yang signifikan dengan atlet lain seusianya. Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai memahami bahwa latihan adalah alat untuk meningkatkan performa, bukan sekadar permintaan ibunya," jelas Goncalves.

Target 20 Gol dan Kemitraan dengan Palmer-Rogers

Musim lalu, Joao Pedro berhasil menyamai angka di punggungnya dengan mencetak 20 gol di semua kompetisi. Ia menjadi striker Chelsea pertama yang mencapai torehan tersebut sejak Diego Costa sembilan tahun sebelumnya. Kini dengan nomor 9 di punggung, target itu diyakini bisa diulang.

Kepercayaan diri Joao Pedro juga ditopang lini serang Chelsea yang mulai menemukan ritme. Bermain bersama Cole Palmer dan rekrutan termahal klub, Morgan Rogers (Rp 117 miliar), ia tampil komplementer. Kombinasi ketiganya menjadi senjata baru Xabi Alonso untuk menembus papan atas musim ini.

Dengan dukungan penuh dari keluarga, tim pelatih, dan manajemen, Joao Pedro kini siap membuktikan bahwa takdir nomor 9 di Chelsea bisa ditulis ulang. Laga demi laga akan menjadi saksi apakah ia bisa mematahkan kutukan yang sudah mengakar selama dua dekade terakhir.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: bbc.co.uk This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top