MAKASSAR — Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Makassar saat ini bertengger di angka 9,6 persen, yang merupakan capaian tertinggi di Sulawesi Selatan. Angka statistik ini berbanding lurus dengan meningkatnya keresahan warga akibat teror geng motor dan pembusuran di jalanan protokol. Pembangunan infrastruktur yang masif ternyata belum mampu menyerap angkatan kerja muda secara merata di seluruh lapisan masyarakat.
Ketimpangan tersebut makin terlihat jelas melalui Indeks Gini Makassar yang berada pada angka 0,39. Meski pertumbuhan ekonomi diklaim berada di atas lima persen, distribusi kesejahteraan dianggap hanya berputar di kalangan tertentu. Hal ini menciptakan jurang pemisah antara kemewahan kafe premium di pusat kota dengan realitas kemiskinan di wilayah lorong-lorong sempit.
Dampak Ketimpangan: Mewahnya Mal vs Keresahan di Lorong Kota
Kondisi ekonomi yang sulit di tingkat akar rumput memicu apa yang disebut sosiolog sebagai inovasi yang menyimpang. Ketika jalur legal untuk mencapai kemakmuran tertutup akibat minimnya keterampilan dan akses kerja, remaja beralih ke tindakan kriminal demi pengakuan. Geng motor menjadi wadah bagi mereka untuk menciptakan panggung eksistensi sendiri melalui kekerasan dan teror knalpot brong.
Moch. Fauzan Zarkasi, praktisi hukum sekaligus pemerhati sosial, menilai fenomena ini sebagai bentuk teriakan eksistensi dari mereka yang dianaktirikan oleh keadaan. "Busur bukan sekadar senjata, ia adalah alat kompensasi atas rasa rendah diri yang dipicu oleh kemewahan kota yang hanya bisa mereka tonton dari balik layar," ungkapnya dalam analisis sosial terkait situasi keamanan di Makassar.
Bagi kelompok remaja ini, identitas sebagai anggota kelompok yang ditakuti jauh lebih berharga daripada menjadi warga patuh yang tidak dianggap oleh sistem. Mereka merebut perhatian publik di atas aspal karena merasa tidak memiliki akses ke ruang-ruang prestasi yang formal. Akibatnya, rasa aman warga runtuh tepat saat kota sedang giat-giatnya memoles etalase modernitasnya.
Fenomena Anomi: Saat Remaja Kehilangan Jangkar Moral dan Sosial
Secara sosiologis, Makassar sedang menghadapi situasi anomi, yakni kondisi di mana norma-norma lama mulai luntur sebelum nilai baru sempat mapan. Perubahan sosial yang terlalu cepat menuju kota metropolitan membuat sebagian masyarakat kehilangan pegangan hidup. Hukum kehilangan wibawanya di mata mereka yang merasa tidak mendapatkan keadilan dari pertumbuhan ekonomi.
Situasi tanpa arah ini diperparah oleh paparan gaya hidup konsumtif di media sosial yang tidak dibarengi dengan sarana ekonomi yang cukup. Remaja dipaksa untuk tampil keren dan gaul, namun sistem ekonomi mengunci pintu bagi mereka yang hanya memiliki ijazah seadanya. Ketegangan antara keinginan untuk diakui dan keterbatasan sarana inilah yang meledak menjadi aksi kriminalitas jalanan.
Pemerintah kota dituntut tidak hanya fokus pada pembangunan beton dan infrastruktur fisik semata. Intervensi sosial melalui pembukaan lapangan kerja padat karya dan penguatan jangkar moral di tingkat lingkungan menjadi krusial. Tanpa perbaikan distribusi kesejahteraan, pembangunan manusia di Makassar akan terus tertinggal di balik gedung-gedung tinggi yang menjulang.