MAKASSAR — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi itu mencapai Rp191,28 triliun pada triwulan pertama 2026. Pertumbuhan ini tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyebut capaian ini bukan kerja satu pihak. Menurutnya, sinergi seluruh elemen dari pusat hingga ke tingkat desa menjadi kunci utama.
Mega Proyek Infrastruktur Jadi Penopang
Salah satu program yang disebut berkontribusi besar adalah Multiyears Project (MYP) Infrastruktur yang tengah berjalan di sejumlah daerah. Proyek strategis Pemprov Sulsel ini mencakup pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi yang mendukung aktivitas ekonomi warga.
“Capaian ini adalah capaian kolektif, termasuk program nasional, Pemprov Sulsel melalui Mega Proyek Multiyears (MYP), serta program kabupaten/kota yang ditopang ekonomi sektor riil masyarakat,” jelas Andi Sudirman di Makassar, Senin.
Dua Sektor Tradisional Masih Dominan
Pertumbuhan ekonomi Sulsel ditopang oleh sektor administrasi pemerintahan yang melonjak 20,56 persen. Konsumsi pemerintah juga naik signifikan hingga 35,14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Meski begitu, sektor pertanian dan perdagangan tetap menjadi tulang punggung utama. Kedua sektor ini menopang aktivitas ekonomi di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan, mulai dari pesisir hingga pedalaman.
Inflasi Terkendali Usai Sempat Tertinggi Nasional
BPS mencatat inflasi Sulsel pada triwulan I 2026 berada di angka 2,86 persen. Angka ini turun drastis dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,5 persen—posisi yang sempat menjadikan Sulsel sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi ketiga di Indonesia.
Penurunan ini menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat. Stabilitas harga bahan pokok disebut berhasil dijaga berkat intervensi pasar dan kelancaran distribusi logistik.
Penyerapan Tenaga Kerja Ikut Meningkat
BPS juga melaporkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja serta membaiknya kualitas pekerjaan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tidak hanya terpusat di kota-kota besar seperti Makassar.
Andi Sudirman berharap momentum ini terus berlanjut. “Mari terus menjaga bersama ritme indikator utama pembangunan Sulsel yang lebih baik,” tutupnya.