MAKASSAR — Dua bulan sudah berlalu sejak kapten kapal asal Gowa, Sulawesi Selatan, diculik kelompok perompak Somalia. Keluarga di Makassar mengaku belum mendapatkan kejelasan soal proses negosiasi maupun kondisi korban.
Informasi terakhir yang diterima keluarga, sang kapten masih dalam keadaan selamat. Namun, keterbatasan komunikasi dan absennya kabar resmi membuat beban psikologis keluarga semakin berat.
Komunikasi Terputus, Keluarga Hanya Terima Kabar Sepotong-sepotong
Keluarga korban di Gowa mengaku hanya mendapat kabar dari sesama awak kapal yang berhasil dihubungi. Informasi itu pun tidak detail dan tidak rutin.
"Terakhir kami dengar beliau selamat, tapi tidak ada kontak langsung. Kami hanya bisa menunggu dan berdoa," ujar salah satu anggota keluarga yang enggan disebutkan namanya.
Perompak Somalia dan Risiko Tinggi Pelaut Indonesia
Perairan Somalia dikenal sebagai salah satu zona paling berbahaya bagi pelayaran niaga internasional. Meskipun patroli keamanan maritim global telah ditingkatkan, serangan perompak masih kerap terjadi.
Kapten kapal asal Gowa ini menjadi salah satu dari puluhan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing dan berisiko tinggi menghadapi situasi serupa. Data Kementerian Luar Negeri mencatat beberapa kasus penyanderaan pelaut Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Belum Ada Titik Terang dari Jalur Diplomasi
Keluarga berharap pemerintah Indonesia melalui KBRI di Nairobi atau perwakilan di Somalia bisa mengambil langkah lebih konkret. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri terkait perkembangan kasus ini.
"Kami minta tolong pemerintah jangan tinggalkan beliau. Ini sudah dua bulan, tidak ada kejelasan sama sekali," tambah keluarga korban.
Fakta Singkat Kasus Penyanderaan Kapten Asal Gowa
- Korban adalah kapten kapal niaga berbendera asing, warga asli Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
- Penyanderaan terjadi di perairan Somalia, kawasan rawan pembajakan kapal.
- Hingga bulan kedua, keluarga belum menerima laporan resmi dari pihak perusahaan pelayaran maupun pemerintah.
Kasus ini kembali mengingatkan pada risiko tinggi yang dihadapi pelaut Indonesia di jalur pelayaran internasional. Keluarga hanya bisa menanti langkah diplomasi dan berharap korban segera dibebaskan dalam keadaan selamat.