MAKASSAR — Momentum peringatan Hari Koperasi ke-79 di Sulawesi Selatan dimanfaatkan untuk mendeklarasikan organisasi baru yang fokus pada pemurnian gerakan koperasi. Masyarakat Koperasi Sulawesi Selatan (MASKOP) resmi dideklarasikan dalam acara doa bersama dan syukuran yang digelar di Dembo Drink, Makassar.
Akar Masalah: Banyak Koperasi Tak Sesuai Prinsip
Ketua Panitia sekaligus Penyuluh Usaha, Muh. Dahlan, mengungkapkan bahwa deklarasi ini lahir dari keprihatinan. Dalam berbagai diskusi, ia menemukan masih banyak praktik koperasi di lapangan yang menyimpang dari prinsip-prinsip dasar perkoperasian.
“Kami melihat masih banyak praktik koperasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip sebenarnya. Karena itu, MASKOP hadir untuk meluruskan pemahaman masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan agar masyarakat semakin cerdas dalam mengenali koperasi yang benar,” ujar Dahlan.
Target: Satu Koperasi Kebajikan di Setiap Daerah
Dewan Pendiri MASKOP, Prof. Dr. H. Muhammad Asdar, M.Si., S.E., menegaskan bahwa organisasi ini tidak hanya berhenti pada deklarasi. Target ke depan adalah membentuk koperasi kebajikan di setiap kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
“Hari ini, dengan kemampuan sendiri, kita ingin memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat Sulawesi Selatan melalui Masyarakat Koperasi Sulawesi Selatan atau MASKOP,” kata Prof. Asdar dalam sambutannya.
Ia mencontohkan keberhasilan model koperasi di sejumlah negara seperti Jerman, Jepang, dan Australia yang menjadi pilar ekonomi. Menurutnya, koperasi yang dijalankan dengan prinsip saling tolong-menolong sesuai sunnah Rasul mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Siapa Saja yang Sudah Siap Bergabung?
Setelah deklarasi di Makassar, sejumlah tokoh dari berbagai daerah menyatakan kesiapan bergabung. Mereka berasal dari Kabupaten Wajo, Gowa, Luwu, Maros, dan Kota Makassar.
MASKOP sendiri didirikan oleh 33 orang pendiri yang memiliki komitmen membangun gerakan koperasi profesional, edukatif, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Para peserta deklarasi berasal dari latar belakang profesi yang beragam: dosen, penyuluh, pelaku UMKM, pebisnis, pedagang, hingga pengelola biro usaha.
Langkah Awal: Pendidikan dan Pelatihan untuk Warga
Keberagaman peserta dinilai menjadi modal awal membangun ekosistem koperasi yang sehat dan transparan. Setelah deklarasi, MASKOP akan memulai program pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat agar mampu membedakan koperasi yang sehat dengan yang menyimpang.
“Koperasi itu baik dan telah terbukti berhasil di berbagai negara. Koperasi yang dijalankan sesuai dengan sunnah Rasul, yaitu saling tolong-menolong, akan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” tegas Prof. Asdar.