MAKASSAR — Isu krisis air bersih yang sempat mengemuka di tengah musim kemarau di Kota Makassar mendapat klarifikasi tegas dari PDAM. Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, menyatakan informasi yang beredar mengenai cadangan air hanya bertahan 30 hari perlu diluruskan.
Menurutnya, data yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar itu merupakan bagian dari skenario mitigasi menghadapi kemungkinan terburuk, bukan kondisi aktual di lapangan. “Angka 30 hari merupakan skenario kondisional apabila kemarau ekstrem berlangsung tanpa hujan dalam periode tertentu. Itu bukan gambaran kondisi produksi air hari ini,” jelas Andi Syahrum dalam keterangan resminya.
Kondisi Sumber Air Baku: Bili-Bili Stabil, Lekopancing Terdampak
PDAM Makassar mengelola air baku dari beberapa sumber dengan karakteristik berbeda. Bendungan Bili-Bili yang memasok Instalasi Pengolahan Air (IPA) 5 Somba Opu dan IPA 4 Maccini Sombala masih memiliki debit relatif stabil. Namun, Bendung Lekopancing menjadi sumber yang paling terdampak akibat penurunan debit selama musim kemarau.
Sementara itu, Intake Manggala di Moncongloe yang melayani IPA 2 Panaikang dan IPA 3 Antang masih berkontribusi sekitar 1.200 liter per detik, meskipun dipengaruhi kondisi pasang surut di Selat Makassar. “Keberadaan beberapa sumber air baku membuat penurunan debit di satu lokasi tidak otomatis mengganggu layanan di seluruh kota,” ujar Andi Syahrum.
Langkah Antisipasi: Rekayasa Distribusi hingga Mobil Tangki
Untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober, PDAM Makassar telah melakukan sejumlah langkah. Rekayasa distribusi dilakukan guna mengoptimalkan pasokan ke wilayah yang berpotensi mengalami penurunan tekanan air. Armada mobil tangki pun disiagakan bagi pelanggan yang membutuhkan.
Koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, BMKG, dan BPBD Kota Makassar juga diperkuat dalam forum kesiapsiagaan kekeringan. “Kami terus memantau perkembangan kondisi sumber air baku secara berkala. Informasi resmi akan disampaikan melalui kanal resmi PDAM,” tambah Andi Syahrum.
BMKG: Suhu Capai 36 Derajat, El Nino Perpanjang Kemarau
Kepala BBMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menilai langkah antisipasi PDAM Makassar sudah tepat. Menurutnya, upaya mencari dan mengoptimalkan sumber air baku alternatif menjadi strategi penting menjaga keberlanjutan layanan di tengah penurunan debit.
Nasrol menjelaskan, Sulawesi Selatan kini dipengaruhi fenomena El Nino yang membuat musim kemarau lebih panjang. Dalam dua hingga tiga bulan ke depan, suhu udara diperkirakan berkisar 34 hingga 36 derajat Celsius dengan curah hujan rendah, sekitar 0 hingga 20 milimeter per bulan. “Saya yakin pihak terkait akan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, dan mengikuti informasi resmi terkait perkembangan musim kemarau. Di sisi lain, musim kemarau juga memberi peluang bagi peningkatan produksi garam dan hasil tangkapan ikan laut karena kondisi oseanografi yang lebih mendukung.