Pencarian

Danantara Butuh Amunisi, Pemerintah Pangkas Jumlah BUMN dari 1.044 Menjadi 250 Perusahaan

Jumat, 14 Agustus 2026 • 11:22:01 WIB
Danantara Butuh Amunisi, Pemerintah Pangkas Jumlah BUMN dari 1.044 Menjadi 250 Perusahaan
Pemerintah menargetkan penciutan jumlah BUMN dari 1.044 menjadi sekitar 250 perusahaan untuk memperkuat pendapatan negara.

SULAWESI SELATAN — Rencana penciutan jumlah BUMN ini bukan sekadar administrasi. Di baliknya, ada kebutuhan mendesak untuk menggenjot pendapatan negara dari sektor badan usaha, terutama ketika ruang fiskal pemerintah mulai sempit. Rasio utang pemerintah diproyeksikan Fitch Ratings naik ke kisaran 41% terhadap PDB pada 2026, sementara pembayaran bunga utang sudah mencapai sekitar 17% dari pendapatan negara pada 2025.

"Dan saat ini BUMN sedang dilakukan penciutan, sedang dilakukan penggabungan-penggabungan beberapa BUMN, baik yang klasternya sama maupun BUMN yang memiliki usaha sejenis," kata Herman di kompleks parlemen, Jumat (14/8/2026).

"Nah, ini yang sedang diupayakan dari 1.044 menjadi 200, kurang lebih 250 BUMN," sambungnya.

Efisiensi dan Revitalisasi Aset Jadi Andalan

Herman menegaskan bahwa penataan ini harus dilihat sebagai upaya memperkuat sumber pendapatan yang kelak menopang Danantara. Dengan jumlah perusahaan yang lebih ramping, pemerintah berharap pengelolaan aset menjadi lebih produktif. Ia mengklaim pertumbuhan pendapatan BUMN saat ini sudah menunjukkan tren positif, ditopang oleh efisiensi, peningkatan produktivitas, dan revitalisasi aset yang sedang berjalan.

"Dan alhamdulillah, kalau melihat dari sisi pendapatan memang sampai hari ini, apakah itu melalui efisiensi, peningkatan produktivitas, maupun dari revitalisasi terhadap aset-aset BUMN yang sekarang berlangsung, tentu kalau kita lihat pertumbuhannya cukup baik," ujarnya.

Utang Harus Dikelola untuk Sektor Produktif

Di tengah proses konsolidasi, Herman mengingatkan bahwa pengelolaan utang pemerintah tidak bisa hanya dilihat dari besaran nominal. Yang lebih krusial adalah bagaimana dana pinjaman tersebut digunakan. Ia menekankan agar utang dialokasikan ke sektor-sektor produktif yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Data Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah pada akhir 2025 mencapai Rp9.637,9 triliun dengan rasio terhadap PDB sekitar 40,6%. Fitch memperkirakan rasio ini naik tipis menjadi 41% pada 2026. Meski outlook berubah dari stabil menjadi negatif, peringkat kredit Indonesia tetap dipertahankan di level BBB.

Tekanan Global dan Target Pertumbuhan Ekonomi

Herman menilai proses konsolidasi BUMN ini tidak bisa dilepaskan dari tantangan ekonomi global yang tidak sederhana. Ia menekankan pentingnya memperkuat daya saing perusahaan negara di tengah tekanan internasional. Sementara itu, Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di sekitar 5% pada 2026-2027, dengan investasi Danantara dan belanja publik menjadi penopang utama permintaan domestik.

"Dan ingat bahwa ini di tengah tantangan global yang tidak sederhana, di bawah tekanan internasional," katanya.

Hubungan antara restrukturisasi BUMN dan peran Danantara memang erat. Semakin efektif perusahaan negara mengelola aset dan menghasilkan pendapatan, semakin besar pula amunisi yang bisa digunakan Danantara untuk berinvestasi.

"Pertama, Danantara tentu sebagai sumber pendapatannya adalah dari BUMN," kata Herman.

Follow sulseldaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: akurat.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks