SULAWESI SELATAN — Data RTI Infokom menunjukkan mayoritas saham ditutup di zona positif, dengan 319 saham menguat, 294 terkoreksi, dan 178 stagnan. Dari sisi sektoral, delapan dari sebelas indeks sektoral berhasil mencatatkan penguatan, sementara tiga sektor lainnya masih tertekan.
Infrastruktur dan Kesehatan Jadi Penentu Arah Pasar
Sektor infrastruktur menjadi pendorong utama dengan kenaikan 0,61%, diikuti oleh sektor barang konsumsi dan properti yang turut menghijau. Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi pemberat terbesar dengan koreksi 0,73%, disusul sektor teknologi dan keuangan yang masih berada di zona merah.
Kondisi ini menunjukkan rotasi sektor masih berlanjut di tengah ketidakpastian global. Investor terlihat lebih selektif, beralih ke sektor yang dianggap memiliki prospek stabil di sisa tahun ini.
Bursa Asia dan Eropa Kompak Hijau, Wall Street Masih Tertekan
Sentimen eksternal pagi ini terbilang mendukung. Indeks Hang Seng di Hong Kong melesat 1,21%, Straits Times Singapura naik 0,33%, dan Shanghai Composite menguat tipis 0,04%. Hanya Nikkei 225 di Jepang yang melemah 0,30%.
Bursa Eropa yang baru memulai perdagangan juga menunjukkan tanda-tanda positif. DAX Jerman naik 0,34% dan FTSE 100 Inggris menguat 0,23%. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap indeks acuan Amerika Serikat yang kompak melemah pada penutupan Kamis (20/8) waktu setempat—S&P 500 turun 0,87%, NASDAQ minus 1%, dan Dow Jones terkoreksi hingga 1,32%.
Peluang Rebound Lanjutan di Awal Pekan Depan
Kemampuan IHSG bertahan di level 6.525 meski ada tekanan dari Wall Street menjadi sinyal positif bagi investor jangka pendek. Penguatan rupiah yang turut menghijau hari ini menjadi katalis tambahan yang memperkuat daya tarik aset berisiko di dalam negeri.
Para pelaku pasar kini menanti arah pergerakan bursa global pada Senin (24/8) untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika sentimen eksternal membaik, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji level resistensi terdekatnya.
Investasi mengandung risiko.