MAKASSAR — Ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59 persen secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,29 persen pada periode sama. Namun capaian itu turun dibanding triwulan I 2026 yang mencapai 6,88 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh 35,14 persen pada triwulan I dan 20,18 persen pada triwulan II.
Misbakhun menilai kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan perlu diperkuat agar tidak terlalu bergantung pada belanja pemerintah. Investasi, konsumsi rumah tangga, ekspor, dan sektor produktif diminta mengambil peran lebih besar.
Ruang Fiskal Terbatas, Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Jadi Kunci
Menurut Misbakhun, diversifikasi sumber pertumbuhan semakin penting ketika ruang fiskal pemerintah pusat dan daerah terbatas. Momentum pertumbuhan Sulsel perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat dan mengembangkan potensi unggulan daerah.
Investasi atau pembentukan modal tetap bruto tumbuh dari 6,91 persen menjadi 8,76 persen pada triwulan II 2026. Sebaliknya, konsumsi rumah tangga melambat dari 5,07 persen menjadi 4,69 persen, sedangkan ekspor terkontraksi 4,97 persen.
"Pemerintah daerah bersama BI perlu menggali sumber-sumber pertumbuhan baru yang sesuai dengan potensi unggulan Sulawesi Selatan. Investasi yang masuk harus mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat," ucap Misbakhun.
Pertanian Kontraksi 0,26 Persen meski Pangsa Capai 19,3 Persen
Sektor pertanian mengalami kontraksi 0,26 persen pada triwulan II 2026. Kondisi itu berbanding terbalik dengan triwulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan 4,96 persen. Padahal sektor pertanian memiliki pangsa sekitar 19,3 persen dalam struktur ekonomi Sulsel.
Bank Indonesia menilai kontraksi pertanian antara lain dipengaruhi berakhirnya masa panen padi. Misbakhun mengingatkan kondisi tersebut tidak cukup dilihat sebagai pola musiman.
"Sulawesi Selatan merupakan salah satu lumbung pangan dan pusat pertumbuhan di kawasan timur Indonesia, sehingga kontraksi sektor pertanian harus menjadi perhatian. Kebijakan tidak cukup hanya merespons pola panen, tetapi juga harus memperkuat produktivitas, pengelolaan air, hilirisasi, dan distribusi pangan," katanya.
Investasi dan Pembiayaan Pelaku Usaha Lokal Jadi Prioritas
Penguatan investasi dinilai perlu disertai perbaikan iklim usaha dan perluasan akses pembiayaan. Hilirisasi komoditas serta peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal juga diperlukan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Musthofa mendorong pengembangan kelompok usaha berdasarkan potensi dan karakteristik masing-masing wilayah. Pertumbuhan ekonomi Sulsel diharapkan semakin beragam melalui penguatan investasi produktif dan pemberdayaan kelompok usaha.
Pertumbuhan tersebut juga perlu ditopang produktivitas, hilirisasi, investasi swasta, dan kegiatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.