MAKASSAR — Fenomena framing media sosial pesanan di Sulawesi Selatan dinilai sebagai ancaman serius bagi demokrasi digital. Ilham Husen, Ketua JMSI Sulsel, mengungkapkan bahwa praktik ini perlahan merusak kepercayaan publik terhadap informasi yang telah melalui proses jurnalistik.
"Banyak penggiat media sosial saat ini dengan mudah mencomot informasi dari berbagai sumber tanpa verifikasi yang memadai," kata Ilham dalam pernyataan yang diterima redaksi, baru-baru ini.
Menurut Ilham, potongan video, foto, maupun kutipan sering dipublikasikan secara sepihak. Konten-konten itu kemudian dikemas dengan narasi provokatif demi mengejar perhatian, popularitas, atau kepentingan tertentu.
Lebih memprihatinkan lagi, framing pesanan di media sosial kerap digunakan untuk menyerang personal, lembaga, maupun pihak tertentu. Ilham menjelaskan, narasi dibentuk sedemikian rupa agar menggiring persepsi negatif publik, meski fakta utuhnya belum tentu demikian.
"Jika dibiarkan, budaya informasi semacam ini dapat merusak ruang demokrasi digital dan memicu konflik sosial di tengah masyarakat," ujarnya.
Kondisi ini, lanjut Ilham, membuat publik sulit membedakan mana informasi yang telah melalui proses jurnalistik dan mana yang sekadar opini liar. Padahal, produk jurnalistik sejatinya lahir dari proses verifikasi, konfirmasi, dan tanggung jawab etik.
Ilham menekankan pentingnya literasi digital sebagai tameng utama menghadapi maraknya konten menyesatkan. Masyarakat harus lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada konten yang belum terverifikasi.
Di sisi lain, para penggiat media sosial juga dituntut memiliki tanggung jawab moral agar tidak asal menyebarkan informasi demi kepentingan sesaat.
"Media sosial seharusnya menjadi ruang edukasi dan penyebaran informasi yang sehat, bukan alat propaganda atau penyebar informasi menyesatkan," tegas Ilham.
Menurutnya, kepercayaan publik adalah hal yang mahal. Ketika informasi dipermainkan demi kepentingan tertentu, yang dirugikan bukan hanya individu atau lembaga, tetapi kualitas demokrasi dan kecerdasan publik secara keseluruhan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak terbendung. JMSI Sulsel mendorong seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ruang digital agar tetap sehat dan konstruktif.