Laptop murah biasanya identik dengan banyak pengorbanan. Tapi HP mencoba mendefinisikan ulang segmen tersebut lewat Omnibook 3, sebuah mesin Windows yang menurut pengujian awal menjadi respons serius pertama atas kehadiran MacBook Neo seharga 600 dolar AS.
Untuk mencapai harga 599 dolar AS (atau serendah 519 dolar AS), HP memilih jalur berbeda dari Apple. Alih-alih memangkas komponen internal, mereka justru menggenjot performa dengan RAM dan penyimpanan dua kali lipat dari MacBook Neo.
Konsekuensinya langsung terasa di bagian fisik. Omnibook 3 memiliki ketebalan 0,7 inci—cukup "chonky" jika digenggam, terutama jika dibandingkan dengan pesaing di kelas yang sama. Bodi plastiknya juga tidak memiliki pesona visual seperti produk Apple.
Meskipun terbuat dari plastik, HP mengklaim laptop ini tidak terasa goyah atau ringkih. Bahkan, karena tutupnya lebih tebal dari rata-rata laptop, bahan plastiknya terasa cukup kokoh. Namun, ada satu keanehan pada engsel layar. Tidak seperti saudaranya, Omnibook 5 yang diuji tahun lalu, tutup laptop ini tidak menutup rapat dengan magnet. Akibatnya, layar akan terbuka sebagian saat perangkat digenggam dalam posisi terbalik.
Terlepas dari kekurangan fisiknya, Omnibook 3 dinilai sebagai salah satu laptop kuliah terbaik yang pernah dirilis. "Ini barang asli," tulis pengulas dalam laporannya. Dengan harga yang sangat kompetitif dan performa yang tidak main-main, laptop ini menjadi pilihan menarik bagi konsumen Indonesia yang menginginkan perangkat bertenaga tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Ketersediaan resmi di pasar Indonesia masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari HP.