Lima Ilmuwan Diusir Paksa dari Konferensi Diabetes AS karena Membagikan Editorial Kritik Trump

Penulis: Jauhari Lubis  •  Senin, 08 Juni 2026 | 00:36:01 WIB
Lima ilmuwan diusir dari konferensi diabetes AS setelah membagikan editorial kritik kebijakan Trump.

Insiden ini terjadi di luar ruang sidang tempat Kepala National Institutes of Health (NIH) Jay Bhattacharya dijadwalkan berbicara. Bhattacharya batal hadir, dan seorang pejabat NIH lain menggantikannya. Namun, kelima ilmuwan tersebut tetap membagikan editorial yang terbit di jurnal Diabetes Care pada 29 April lalu.

Mereka yang diusir adalah Steven Kahn, profesor kedokteran di University of Washington sekaligus pemimpin redaksi Diabetes Care; Desmond Schatz, mantan presiden ADA dari University of Florida; Aaron Kelly, profesor pediatri di University of Minnesota; Justin Ryder dari Northwestern University; dan Irl Hirsch dari University of Washington. Kahn adalah salah satu penulis editorial tersebut.

“Mereka secara fisik menyeret kami, memaksa kami keluar dari pusat konferensi, dan sekarang mengatakan kami tidak boleh lagi menghadiri pertemuan ini,” kata Aaron Kelly kepada MedPage Today, media yang pertama kali melaporkan kejadian ini. “Mereka mengambil lanyard kami. Benar-benar sudah sampai begini di Amerika. Sensor itu nyata. Amerika harus bangkit. Para ilmuwan, bangkitlah. Para dokter, bangkitlah.”

Isi Editorial yang Dilarang Beredar

Editorial yang dibagikan para ilmuwan itu berjudul “The Assault on Science and Academic Medicine” — kritik pedas terhadap pemotongan dana riset dan pembatasan kebebasan akademik yang dilakukan pemerintahan Trump. Tulisan ini menyoroti bagaimana kebijakan tersebut mengancam penelitian medis, termasuk riset diabetes yang menjadi fokus utama ADA.

Publikasi editorial di jurnal resmi ADA itu sendiri menunjukkan bahwa isi kritik tersebut dianggap sah secara ilmiah. Ironisnya, tindakan pengusiran justru terjadi di forum yang sama yang menerbitkan tulisan itu.

ADA Membantah Tuduhan Sensor

Hingga berita ini ditulis, ADA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden pengusiran. Namun, pihak penyelenggara konferensi biasanya memiliki aturan ketat mengenai distribusi materi di luar stan resmi. Para ilmuwan yang diusir diduga melanggar kebijakan tersebut.

Akan tetapi, para pengamat menilai tindakan ini terlalu berlebihan. Mendistribusikan cetak ulang editorial dari jurnal resmi ADA sendiri — yang sudah melalui proses peer review — seharusnya tidak dianggap sebagai pelanggaran serius. Apalagi hingga melibatkan pengawalan paksa keluar dari gedung.

Dampak bagi Dunia Riset Global

Insiden ini menjadi preseden buruk bagi kebebasan akademik, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga secara global. Jika forum ilmiah mulai membungkam kritik terhadap kebijakan politik, maka fungsi ilmuwan sebagai pengawas kebijakan publik akan lumpuh.

Bagi Indonesia, kejadian ini bisa menjadi pelajaran. Riset dan konferensi internasional seharusnya menjadi ruang aman bagi diskusi ilmiah — bukan medan pertarungan politik. Para peneliti Indonesia yang sering mengikuti konferensi di luar negeri perlu mewaspadai potensi pembatasan serupa di masa depan.

Kelima ilmuwan tersebut kini dilarang menghadiri sisa acara konferensi ADA tahun ini. Belum diketahui apakah ada sanksi lanjutan dari institusi masing-masing. Yang jelas, satu hal sudah terjadi: sensor yang mereka kritik dalam editorial itu, kini mereka alami langsung di ruang konferensi sendiri.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: arstechnica.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top