SULAWESI SELATAN — Hashim menyampaikan optimismenya dalam pidato di ajang IPA Convex 2026. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis berkat bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat. "Penggunaan energi akan melonjak sangat tinggi dalam lima tahun ke depan," ujarnya.
Gelombang Investasi AI Ubah Struktur Konsumsi Listrik
Hashim menilai perkembangan AI akan mengubah peta kebutuhan energi secara fundamental. Pusat data yang dibangun oleh raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, hingga Apple membutuhkan pasokan listrik yang besar dan stabil.
Kondisi ini, menurut Hashim, bukan ancaman melainkan peluang baru bagi industri energi nasional. "Kita harus mempersiapkan diri untuk era baterai dan kendaraan listrik," tegasnya.
Konflik Timur Tengah dan Dorongan Elektrifikasi Transportasi
Di tengah optimisme investasi, Hashim mengakui konflik Iran-Israel menimbulkan tantangan bagi ketahanan energi. Indonesia masih mengimpor sekitar satu juta barel minyak dan produk minyak setiap hari, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan global.
Pemerintah kini tengah mengkaji percepatan elektrifikasi sektor transportasi sebagai solusi. Hashim mengungkapkan, ada sekitar 140 juta sepeda motor berbahan bakar minyak yang beroperasi di Indonesia. "Prospeknya adalah seluruh sepeda motor itu pada akhirnya beralih menjadi kendaraan listrik," ujarnya.
Gas Alam Diproyeksikan Jadi Pemenang Transisi Energi
Hashim memproyeksikan gas alam akan memainkan peran lebih besar ketika kendaraan listrik dan pusat data mulai mendominasi. Pembangkit listrik berbasis gas diperkirakan menjadi tulang punggung pasokan energi di masa transisi.
Menurutnya, pelaku industri migas perlu mulai mengantisipasi perubahan struktur permintaan energi. Sektor transportasi, penerbangan, hingga pelayaran secara bertahap akan bergerak menuju elektrifikasi.
Stabilitas Politik Jadi Magnet Investor Global
Hashim menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi energi dunia karena mempertahankan posisi netral di tengah fragmentasi geopolitik global. "Investor dari Rusia, China, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan negara lainnya diterima di Indonesia. Investasi mereka akan dilindungi pemerintah," ujarnya.
Ia menambahkan, faktor kepastian kontrak dan stabilitas politik menjadi modal utama yang dicari investor internasional. Dengan kombinasi keunggulan tersebut, sektor energi Indonesia dinilai siap menghadapi perubahan global yang semakin cepat.