SULAWESI SELATAN — Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, menegaskan e-sports telah berevolusi menjadi sektor strategis dalam pengembangan ekonomi digital nasional. Hal ini disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertema 'E-Sports Nasional & Asian Games: Prestasi, Talenta, dan Ekonomi Digital Bangsa' di Jakarta, Senin (8/6).
"E-sports bukan lagi sekadar hobi. E-sports adalah prestasi, e-sports adalah profesi, dan e-sports adalah bagian dari ekonomi digital nasional," kata Ibas dalam keterangan resmi, Rabu (10/6).
Sejak 2018, atlet e-sports Indonesia telah mengoleksi 18 medali emas, 10 medali perak, dan 10 medali perunggu dari berbagai ajang internasional. Capaian ini membuktikan talenta lokal mampu bersaing di level tertinggi.
Namun, Wakil Ketua Harian II PB ESI, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Benone Jesaja Louhenapessy, mengungkapkan sejumlah kendala masih membayangi persiapan menuju Asian Games. Pelatnas belum dimulai, kebutuhan training camp internasional belum terpenuhi, dan peralatan pertandingan berstandar tinggi masih terbatas.
Ketidakmerataan pembinaan antar daerah, keterbatasan pelatih profesional, serta infrastruktur digital yang belum merata menjadi tantangan struktural. Stigma negatif terhadap e-sports di lingkungan pendidikan juga disebut masih menghambat regenerasi atlet.
Ibas menyoroti negara-negara yang telah membangun ekosistem e-sports kuat, seperti Korea Selatan, Denmark, dan Tiongkok. Figur seperti 'Faker' Lee Sang-hyeok dan 'N0tail' Johan Sundstein disebut sebagai bukti bahwa pembinaan berkelanjutan mampu melahirkan juara dunia.
"Kita tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi produsen talenta digital dunia," ujar Ibas yang juga menjabat Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar: lebih dari 210 juta pengguna internet, mayoritas generasi muda. Namun, modal ini harus diimbangi dengan langkah strategis berupa perluasan akademi daerah, penguatan sport science, dan percepatan infrastruktur digital.
Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama PB ESI terus memperkuat pembinaan lewat pemusatan latihan nasional, sertifikasi pelatih, kompetisi berjenjang, hingga pengembangan akademi e-sports. Liga e-sports nasional saat ini telah menjaring lebih dari 126.000 atlet dari seluruh Indonesia.
Dalam sesi diskusi, perwakilan Garudaku, Robertus, menyoroti masih kuatnya stigma terhadap e-sports di dunia pendidikan. Banyak sekolah dan perguruan tinggi belum sepenuhnya menerima e-sports sebagai bagian dari pengembangan prestasi siswa, meskipun kurikulum telah tersedia.
Peserta lain, Ahmad Marsam dan Andika Raman, menekankan perlunya peningkatan kualitas sparring partner, regenerasi atlet, serta dukungan perangkat kompetisi yang lebih memadai. Ibas berkomitmen mendorong e-sports sebagai bagian dari strategi nasional pengembangan talenta dan ekonomi digital.
"Berlatihlah dengan disiplin, strategi, dan semangat juang tinggi. Itu semua adalah investasi masa depan bangsa," pesan Ibas kepada para atlet.