Spotify Kehilangan Mahkota Aplikasi Streaming Musik Terbaik

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 22:11:01 WIB
Spotify kehilangan posisi teratas sebagai aplikasi streaming musik favorit pengguna.

Dulu, Spotify adalah jawaban mudah dan jelas bagi siapa pun yang serius dengan musik. Desainnya apik, fitur rekomendasi lagunya akurat, dan harganya terasa sepadan. Tapi sekarang, posisi itu mulai goyah.

Keluhan pengguna mengemuka di berbagai forum dan media sosial. Banyak yang merasa pengalaman menggunakan Spotify tidak lagi seistimewa dulu. Layanan streaming musik lain mulai menawarkan nilai lebih yang sulit diabaikan.

Fitur Premium yang Kian Biasa Saja

Salah satu keunggulan Spotify dulu adalah kemampuannya memperkenalkan lagu baru yang tepat sasaran. Algoritma rekomendasi seperti Discover Weekly pernah menjadi standar emas industri. Namun inovasi di area ini terasa melambat.

Sementara itu, kompetitor seperti Apple Music dan YouTube Music terus menambahkan fitur baru. Apple Music misalnya, kini menawarkan audio lossless dan spatial audio tanpa biaya tambahan. Spotify justru masih membanderol fitur serupa dengan harga lebih tinggi lewat paket Spotify HiFi yang tak kunjung dirilis secara luas.

Harga Naik, Tapi Layanan Tidak Sebanding

Spotify beberapa kali menaikkan harga langganan di berbagai negara. Di AS, harga paket individual naik dari $9,99 menjadi $11,99 per bulan. Kenaikan ini belum diiringi peningkatan fitur yang signifikan bagi pengguna biasa.

Pengguna Indonesia pun mulai merasakan dampaknya. Dengan kurs estimasi Rp 16.000 per dolar AS, kenaikan ini terasa lebih berat di kantong. Sementara itu, layanan pesaing seperti YouTube Premium menawarkan paket keluarga dengan harga kompetitif yang sudah termasuk bebas iklan di YouTube.

Pengalaman Mendengarkan yang Semakin Berisik

Para pengguna juga mengeluhkan semakin banyaknya konten non-musik di Spotify, seperti podcast dan audiobook. Bagi sebagian orang, ini adalah tambahan yang menarik. Namun bagi yang hanya ingin mendengarkan musik, antarmuka Spotify terasa semakin berantakan.

Rekomendasi lagu kini kerap tercampur dengan episode podcast yang tidak diinginkan. Fitur pencarian pun kadang menampilkan hasil yang kurang relevan. Pengalaman yang dulu mulus kini terasa seperti berjalan di pasar yang ramai.

Loyalitas Pengguna Mulai Diuji

Meski begitu, Spotify masih memiliki basis pengguna setia yang besar. Ekosistem playlist yang sudah terbangun selama bertahun-tahun menjadi faktor penahan yang kuat. Namun jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pengguna mulai melirik alternatif lain.

Pertanyaan besarnya sekarang: mampukah Spotify berbenah sebelum pengguna benar-benar hengkang? Atau justru aplikasi streaming musik lain yang akan mengambil alih mahkota yang mulai longgar ini?

Reporter: Ginanjar Raharjo
Back to top