SULAWESI SELATAN — Manajemen HRUM memastikan tidak ada proyek baru yang akan digeber dalam waktu dekat. Seluruh dana besar tahun ini hanya akan digunakan untuk merampungkan pekerjaan rumah yang sudah dimulai pada periode sebelumnya.
"Perusahaan belum memiliki rencana investasi besar tambahan setelah proyek-proyek yang sedang berjalan saat ini selesai," tulis manajemen dalam laporan hasil public expose, dikutip pekan ini.
Dari total capex US$310 juta, sebanyak 56 persen digelontorkan untuk aset tetap dalam penyelesaian. Sisanya, 7 persen untuk bangunan dan prasarana, 5 persen untuk properti pertambangan, dan 1 persen untuk aset tetap lainnya.
Dominasi sektor nikel makin terlihat dari realisasi belanja kuartal I-2026. Dari total US$139 juta yang sudah dibelanjakan—setara 44,8 persen dari anggaran tahunan—sebanyak US$137 juta langsung mengalir ke pengembangan bisnis nikel. Sisanya hanya untuk pertambangan batu bara, logistik, dan operasional lain.
Manajemen HRUM menilai risiko kenaikan biaya investasi sudah minim. Sebab, belanja jumbo sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya saat harga material dan kontraktor masih dikunci dalam kontrak.
Dengan strategi itu, fluktuasi harga komoditas maupun material konstruksi ke depan dinilai tidak akan signifikan menggerus rencana keuangan perusahaan. HRUM pun mengambil posisi defensif di tengah ketidakpastian harga nikel dan batu bara global.
Langkah ini sekaligus menandai pergeseran strategi: dari agresif membangun, kini HRUM lebih memilih merampungkan proyek yang sudah berjalan ketimbang membuka front ekspansi baru. Keputusan itu diambil di saat harga komoditas masih fluktuatif dan pasar menanti kepastian permintaan dari China serta kebijakan energi global.