SULAWESI SELATAN — Pekan lalu, Microsoft mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja terhadap 4.800 karyawan di berbagai divisi. Namun, pukulan terkeras dirasakan oleh tim Xbox. Dalam memo internal yang ditulis Asha Sharma, terungkap bahwa struktur manajemen Xbox memiliki 14 lapisan birokrasi—sebuah jumlah yang dinilai tidak efisien untuk perusahaan teknologi sebesar Microsoft.
Podcast Windows Central mengkritik kegagalan manajemen memanfaatkan waralaba besar seperti Fallout dan Minecraft yang sudah diakuisisi dengan nilai miliaran dolar. "Xbox tidak bisa kapitalisasi IP sebesar itu," kata Daniel Rubino, salah satu host podcast tersebut. Kini, wacana menjadikan Xbox sebagai anak perusahaan independen mulai mencuat sebagai opsi penyelamatan terakhir merek gim tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk PHK, sebuah dokumen internal bocor melalui server Discord. Proyek yang diberi nama kode "Project Ion" ini adalah sistem operasi eksperimental yang sepenuhnya berjalan di dalam browser Microsoft Edge. Konsepnya radikal: Copilot menggantikan fungsi Start Menu tradisional, dan seluruh antarmuka bersifat web-native serta platform-agnostic.
Zac Bowden dari Windows Central mengonfirmasi bahwa proyek ini merupakan inkubasi internal tahun 2024. "Ini bukan Windows 13," tegas Bowden, "tapi sebuah lapisan OS yang hidup di dalam browser." Belum ada kepastian apakah proyek ini bakal dirilis ke publik, atau sekadar eksperimen laboratorium.
Kabar lain yang tak kalah penting adalah kematian lini Surface Go. Sumber internal mengonfirmasi bahwa Surface Go 10 inci dan Surface Laptop Go resmi dihentikan. Keputusan ini meninggalkan celah besar di segmen tablet ultra-portabel untuk kalangan enterprise.
Sebagai gantinya, Microsoft menyiapkan generasi baru Surface Laptop 8 dan Surface Pro 12 yang ditenagai prosesor Snapdragon X2. Kedua perangkat ini akan hadir dengan konfigurasi RAM baru: 8 GB sebagai varian termurah, dan 24 GB sebagai "titik manis" (sweet spot) baru. Langkah ini diambil untuk mengatasi krisis RAM yang dikeluhkan pengguna di generasi sebelumnya.
Bagi pengguna Windows di Indonesia, rangkaian berita ini punya implikasi langsung. Pertama, masa depan Xbox sebagai platform gim masih abu-abu—jika restrukturisasi gagal, layanan dan dukungan gim bisa berubah. Kedua, bocoran Copilot OS menandakan bahwa Microsoft serius menggeser Windows ke arah kecerdasan buatan, yang berarti perangkat masa depan mungkin membutuhkan spesifikasi lebih tinggi untuk menjalankan fitur AI lokal.
Ketiga, dengan pensiunnya Surface Go, opsi tablet Windows ringkas semakin terbatas. Konsumen yang mencari perangkat sekelas iPad untuk Windows kini hanya bisa melirik Surface Pro 12 yang harganya pasti jauh lebih mahal. Belum ada informasi ketersediaan dan harga resmi untuk pasar Indonesia, namun perangkat Surface generasi baru biasanya tiba 1-2 bulan setelah peluncuran global.