LUWU TIMUR — Emosi karena merasa ditipu, seorang lurah di Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, nekat menganiaya rekannya sendiri. Pelaku adalah Febry Ramadany Sukman (30), oknum Lurah Tomoni, yang bertindak bersama adiknya, Al Jibran Mahardika.
Korban bernama Muh Satrian Saputra (26) mengalami luka terbuka di pelipis kiri akibat pemukulan. Kasi Humas Polres Luwu Timur, Ipda Mustajuddin, membenarkan kejadian tersebut dan menyebut motif penganiayaan dipicu oleh dugaan penipuan yang dilakukan korban.
Korban dan Pelaku Masih Satu Keluarga
Mustajuddin mengungkapkan bahwa hubungan antara pelaku dan korban bukan sekadar rekan bisnis, melainkan masih memiliki ikatan keluarga. Febry awalnya percaya saat korban meminta modal untuk membuka usaha barbershop bersama.
"Korban meminta melakukan kerjasama dengan terlapor dan meminta untuk dimodali, namun setelah terlapor memenuhi permintaan korban, korban malah menghilang," jelas Mustajuddin dalam keterangannya, Minggu (12/7/2026).
Korban Diduga Cemarkan Nama Baik Orang Tua Pelaku
Selain masalah utang-piutang, kemarahan Febry juga dipicu oleh ulah korban yang disebut-sebut mencemarkan nama baik orang tua pelaku. Korban menyebarkan cerita bahwa ia diperlakukan layaknya pembantu saat tinggal di rumah orang tua Febry.
"Korban juga disebut telah mencemarkan nama baik orang tua terlapor dengan menyebarkan kabar bahwa ia diperlakukan layaknya pembantu saat tinggal di rumah terlapor, yang dimana kedua bela pihak masih memiliki hubungan keluarga," beber Mustajuddin.
Polisi Periksa Lurah dan Adiknya
Kasat Reskrim Polres Luwu Timur, AKP Jody Dharma, membenarkan bahwa oknum lurah tersebut telah melakukan pemukulan. Saat ini, Febry dan adiknya tengah menjalani pemeriksaan di Polsek Mangkutana.
"Memang benar yang bersangkutan (Lurah) melakukan pemukulan, sementara diperiksa sama anggota Polsek Mangkutana," ujar Jody kepada detikSulsel, Minggu (12/7).
Polisi masih mendalami kasus ini untuk menentukan pasal yang akan diterapkan. Dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang aparatur sipil negara ini tentu menjadi sorotan, mengingat pelaku adalah pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan di masyarakat.