Belitung Resmi Jadi UNESCO Global Geopark, 17 Geosite Bisa Dijelajahi

Penulis: Hendra Setiawan  •  Kamis, 24 September 2026 | 10:54:31 WIB
Pulau Belitung resmi menyandang status UNESCO Global Geopark dengan 17 geosite yang tersebar dari pesisir hingga pedalaman.

SULAWESI SELATAN — Pulau Belitung di lepas pantai Sumatera resmi menyandang status UNESCO Global Geopark berkat formasi granit Trias, terumbu karang jernih, dan hutan habitat tarsius endemik. Pulau berkontur kaki sepatu ini menyimpan 17 geosite yang tersebar dari pesisir hingga pedalaman, dengan penerbangan langsung dari Singapura yang mempermudah akses. Status geopark mendorong pengelolaan wisata berkelanjutan di tengah geliat hotel ramah lingkungan yang mulai beroperasi.

Di Kabupaten Belitung, jalan aspal tipis berkelok melewati desa-desa rindang yang menempel di garis pantai. Sesekali skuter bermuatan penuh penumpang melintas, meninggalkan kesan pulau ini masih lengang bagi wisatawan yang datang.

Status UNESCO Global Geopark yang diraih Belitung membawa konsekuensi baru: perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas. Warga setempat menyambut baik kunjungan wisatawan, tapi mereka juga bertekad menyusun cetak biru pariwisata yang tidak merusak alam.

17 Geosite Tersebar dari Pesisir hingga Pedalaman

Belitung memiliki 17 geosite yang tersebar di seluruh pulau. Salah satu yang paling mudah dijangkau adalah Bukit Peramun, taman yang berjarak 30 menit berkendara ke arah pedalaman dari pesisir.

Pemandu lokal Jimie Afrian menuntun pengunjung melewati hutan kayu ulin dan pohon ara liar menuju puncak saat matahari terbenam. Di sepanjang jalur yang dipenuhi daun kering, ia menunjukkan akar ginseng yang diolah menjadi obat herbal dan Batu Kember atau Batu Kembar.

Batu Kembar dulunya dipakai untuk menentukan kesiapan seseorang menikah. Remaja dari lima desa sekitar mendaki hutan dan berdiri di antara batu granit raksasa itu dengan tangan terentang. Jika kedua tangan bisa menyentuh batu kembar, mereka dianggap sudah dewasa.

Aturan Baru: Wajib Didampingi Pemandu

Dulu pengunjung bisa menjelajah jalur Bukit Peramun sendiri. Kini setiap orang wajib didampingi pemandu di hutan seluas 60 hektare yang dikelola komunitas ini. Hutan tersebut menjadi rumah bagi trenggiling, burung rangkong, dan kancil.

"Meski hanya 60 hektare, kami akan melindunginya," ujar Afrian saat berdiri di platform kayu yang menghadap lanskap pertanian, perkebunan kelapa sawit, dan hutan.

Di titik tertinggi taman, warga membangun restoran pop-up. Pengunjung menikmati panorama pedesaan sambil menyeruput teh dan mencelupkan potongan singkong segar ke madu lokal. Langit berubah warna oker dan ungu saat matahari turun di balik perbukitan.

Bertemu Tarsius Belitung di Malam Hari

Atraksi utama Bukit Peramun justru baru dimulai setelah gelap. Para ranger berjalan lebih dulu dengan lampu inframerah untuk mencari tarsius Belitung, primata nokturnal terancam punah yang menjadi ikon taman.

Makhluk pemalu itu cenderung bertahan di kanopi tinggi ketimbang turun mencari makan. Saat seorang ranger meminta rombongan mengikuti dengan cepat dan tenang, ekor merah muda panjang terlihat menggantung sekitar dua meter di atas kepala.

Matanya yang besar berwarna zaitun mengamati pendatang sambil kaki-kaki merah mudanya melingkar di dahan. Pemandu membatasi waktu perjumpaan. "Waktu Anda bersama tarsius memakai jatah mereka untuk mencari makan," kata Afrian.

Hotel Ramah Lingkungan di Tanjung Kelayang

Kawasan Tanjung Kelayang Reserve seluas 350 hektare di garis pantai menjadi lokasi dua hotel yang menerapkan prinsip wisata regeneratif. Sheraton Belitung dibangun dari bata tanah liat buatan tangan dan kayu renggadai, memanfaatkan air hujan serta energi surya.

Alih-alih taman rumput, area hotel dilengkapi kolam ekologi yang dibersihkan alami dengan lapisan tanah liat kaolin. Tak jauh dari situ, Billiton Ekobeach Retreat menawarkan vila pantai berbahan kayu dolken dan atap daun nipah.

Wisata Bahari dan Pulau-Pulau Granit

Setelah menyusuri hutan dan mengunjungi peternakan lebah tanpa sengat, menjelajah garis pantai menjadi agenda yang ditunggu. Operator wisata Blue Mind Experience mengajak tamu berlayar menyusuri kawasan reserve, kadang memberi pengalaman seperti terdampar di pulau kosong.

Pantai di depan Sheraton kembali terasa sepi. Hanya ada pemandu Ali dan kapten Rio yang akan mengemudikan perahu. Pemandu Alif Faozin, 18 tahun, baru saja pulang ke rumah orang tuanya di Belitung untuk membantu melayani lonjakan wisatawan.

Orang tuanya yang bekerja di perusahaan kelapa sawit senang dengan peran barunya. Alif bisa bertemu wisatawan dari berbagai negara dan berbagi cerita tentang kampung halamannya.

Perahu berkelok di antara pulau-pulau tropis berbalut pohon kelapa dan formasi batuan granit bertumpuk seperti balok Jenga. Di sela ombak, warga terlihat menyelam untuk mencari hasil laut.

Tips Berkunjung ke Belitung

Waktu terbaik menjelajah geosite adalah pagi hingga sore untuk aktivitas darat, dan setelah gelap untuk pengamatan tarsius. Bawa alas kaki nyaman, air minum, dan obat anti-nyamuk karena jalur hutan cukup lembap.

Untuk informasi terkini soal tarif pemandu, jam operasional geosite, dan paket wisata bahari, wisatawan dapat mengonfirmasi langsung ke pengelola kawasan atau dinas pariwisata setempat.

Durasi ideal menjelajah Belitung adalah tiga hingga empat hari agar semua geosite utama, wisata bahari, dan hutan konservasi bisa dinikmati tanpa terburu-buru.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: cntraveler.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top